Nadwah Khotmil Qur'an 2014

Khotmil Qur'an binnadzri dan bilhifdzi, semoga Al-Qur'an sebagai penolong kami di akhirat

Kunjungan Syeikh Kholil dari Lebanon

Syeikh Kholil bin Abdil Qodir Ad Dabbagh Al-Hasani, dari Beirut Lebanon. Alhamdulillah semoga dengan kunjungan beliau kami semua mendapatkan keberkahan... amiin

Kunjungan TV Indosiar

dalam rangka penjaringan peserta AKSI Indosiar untuk wilayah Cilacap dan sekitarnya

Raker Pengurus 2015

rapat kerja pengurus 2015 di pantai cemara sewu, di bawah pohon cemara dan desiran angin sepoi-sepoi

Lomba Hadroh Tingkat Propinsi Jawa Tengah

Mewakili Kabupaten Cilacap Lomba Hadroh Tingkat Propinsi Jawa Tengah di Semarang

Rafting Group Hadroh Tsamrotul Hidayah

Arung jeram melatih kerja team dan keberanian mengatasi rintangan

Ambeg Utama Andhap Asor, Selalu Menjadi Yang Utama Tetapi Tetap Rendah Hati

Kamis, 26 Mei 2016

12 Piala Diraih Dalam POSPEDA Cilacap 2016


Pekan Olahraga dan Seni Pesantren Daerah (POSPEDA) tahun 2016 telah berakhir, namun gelora kegembiraan masih tergambar di wajah santri-santri Al-Hidayah yg ikut dalam kontingen.

Perjuangan  mereka dalam berlatih sekuat tenaga dalam menghadapi POSPEDA berbuah manis. 12 piala dapat dikoleksi, 4 cabang lomba meraih juara 1 dan 8 cabang meraih juara 2. Hanya 4 cabang saja yang belum menoreh prestasi. Dan Juara 1 berhak mewakili Cilacap dalam POSPEDA tingkat Propinsi Jawa Tengah.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan anugerah yang begitu besar, semua keberhasilan hanya layak disandarkan kepada-Nya.

Sejak awal persiapan lomba, peserta selalu diingatkan bahwa kemenangan bukanlah segalanya. Namun bukan berarti mereka boleh berlatih seenaknya. Semua harus diperjuangkan demi syi’ar dan bukti kecintaan mereka kepada Ponpes Putri Al-Hidayah.

Acara POSPEDA yang dilaksanakan oleh Kantor Kementrian Agama Kabupaten Cilacap dan Departemen Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cilacap itu dibuka di pendopo Kabupaten Cilacap oleh Bapak Bupati dan wakilnya.

Berikut cabang-cabang yang meraih Sukses :
- Juara 1 pidato bahasa indonesia
- Juara 1 pidato bahasa inggris
- Juara 1 cipta puisi

- Juara 1 stand-up comedy

- Juara 2 seni kriya 
- Juara 2 rebana
- Juara 2 musik islami
- Juara 2 lari 200 m
- Juara 2 lari 3000 m
- Juara 2 bola volley
- Juara 2 senam santri
- Juara 2 teater



Kamis, 19 Mei 2016

Nadwah Khotmil Qur'an 2016

Tahun ini, sebagaimana agenda rutin 2 tahunan Ponpes Putri Al-Hidayah Kroya menyelenggarakan Nadwah Khotmil Qur'an. yang diikuti oleh 58 khotimat, 4 diantaranya adalah bil hifdzi/Hafalan.

Kebetulan Yayasan Miftahul Huda Kroya juga mempunyai acara rutin tahunan yaitu Rajaban/ Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. maka dilaksanakan 2 acara tersebut secara bersamaan dan ditetapkanlah tanggal 7 Mei 2016 sebagai acara puncak Peringatan Isra' Mi'raj dan Nadwah Khotmil Qur'an.

Sementara rangkaian acarapun jadi padat. dimulai Ponpes Putri Al-Hidayah mengadakan Festival Rebana, Lomba Stand-up comedy, dan Lomba Young Talent yang dilaksanakan pada hari Ahad, tanggal 1 Mei 2016, peserta cukup banyak sehingga acara yang diadakan mulai pagi hari inipun baru selesai pada malam hari, sekitar pukul 21.00 wib.

Dilanjutkan pada hari Kamis, 5 Mei 2016 diadakan Sima'an Al-Qur'an 30 juz oleh santri dan alumni Ponpes Putri Al Hidayah.

Hari Jum'atnya, yaitu tanggal 6 Mei diadakan lagi Sima'an Al-Qur'an 30 juz oleh ibu-ibu Majlis Ta'lim Al-Qur'an Kroya. dua sima'an Al-Qur'an ini bertempat di musholla pondok. 

sorenya, masih tanggal 6 Mei diadakan Ziarah ke maqbaroh simbah KH.M. Minhajul Adzkiya' yang merupakan muassis (pendiri) Ponpes Putri Al-Hidayah dan Yayasan Miftahul Huda Kroya.

Tanggal  7 Mei 2016 pagi hari, sekitar jam 08.00 s/d dluhur dilaksanakan acara puncak Ponpes Putri Al-Hidayah yaitu Nadwah Khotmil Qur'an. dan malamnya puncak Isra' Mi'raj yaitu Pengajian Umum oleh KH. Dr. Arja 'Imroni, MA dari Semarang yang juga menjabat sebagai Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah.

Sementara rangkaian acara peringatan Isra' Mi'raj yang diselenggarakan Yayasan Miftahul Huda Kroya rutin tiap tahun didahului dng berbagai acara, seperti donor darah, khitanan massal, santunan yatim, pawai ta'aruf, dan Khotmil Qur'an TPQ.

untuk lebih jelasnya saya urutkan semua rangkaian acara Peringatan Isra' Mi'raj dan Nadwah Khotmil Qur'an sebagai berikut :

1. Ahad, 1 Mei 2016, 08.00-21.00 : Lomba Stand-up Comedy, Young Talent, Festival Rebana.
2. Rabu,  4 Mei 2016, 08.00-12.00 : Donor Darah
3. Kamis, 5 Mei 2016, 05.30-selesai : Sima'an Al Qur'an 30 Juz (Santri dan Alumni).
4. Kamis, 5 Mei 2016, 08.00-selesai : Sunatan Massal (14 anak)
5. Jum'at, 6 Mei 2016, 08.00-selesai : Sima'an Al-Qur'an Ibu-ibu Hafidzoh Kroya
6. Jum'at, 6 Mei 2016, 08.00-selesai : Santunan Anak Yatim ( 200 anak ).
7. Jum'at, 6 Mei 2016, 16.00-selesai : Ziarah Maqbaroh
8. Sabtu, 7 Mei 2016, 08.00-12.00 : Nadwah Khotmil Qur'an Ponpes Putri Al-Hidayah (58 Khotimat)
9. Sabtu, 7 Mei 2016, 16.00-selesai : Pawai Ta'aruf
10. Sabtu, 7 Mei 2016, 20.00-24.00 : Khotmil Qur'an TPQ dan Pengajian Umum

Rabu, 29 Juli 2015

Indahnya Bid'ah Hasanah

Definisi Bid’ah
Imam Izzuddin bin Abdissalam, ulama syafi’iyah, mendefinisikan bid’ah dalam kitabnya, Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam (2/48) sebagai berikut, “Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal (terjadi) pada masa Rasulullah saw.”

Definisi senada juga dikemukakan oleh Imam an-Nawawi. Beliau berkata, “Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang baru yang belum ada pada masa Rasulullah saw”. (Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat,3/22).

Pembagian Bid’ah
Moyoritas ulama Ahlussunnah wal Jamaah membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah madzmûmah (bid’ah yang tercela).

Dalam hal ini, Imam asy-Syafi’i –mujtahid besar dan pendiri mazhab syafi’iyah–, berkata, “Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, suatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan dan tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (al-Baihaqi, Manaqib asy-Syafi’i,1/469).

Imam an-Nawawi dalam kitabnya, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât (3/22) juga membagi bid’ah pada dua bagian. Berliau berkata, “Bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah qabîhah (jelek)”.

Lebih dari itu, pembagian bid’ah menjadi dua, juga dilegitimasi dan dibenarkan oleh Syekh Ibnu Taimiyah, rujukan paling otoritatif kalangan Wahabi. Beliau berujar, “Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. Imam Syafi’i berkata, “Bid’ah itu ada dua. Pertama, bid’ah yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Atsar sebagian sahabat Rasulullah saw. Ini disebut bid’ah dhalalah. Kedua, bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut. Ini terkadang disebut bid’ah hasanah berdasarkan perkataan Umar ra, “Inilah sebaik-baik bid’ah”. (Syekh Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, 20/163) .

Dari komentar tokoh-tokoh terkemuka di atas, dapat kita tarik benang lurus bahwa esensi bid’ah hasanah itu tidak dapat dipungkiri wujudnya. Tersebab, semua kalangan dan ulama-ulama terkemuka mengakui adanya. Bahkan, bid’ah hasanah sudah ada semenjak masa Rasulullah saw, masa shahabat dan terus berlanjut sampai pada generasi selanjutnya.

BID’AH HASANAH PADA MASA RASULULLAH SAW

1.      Hadis Shahabat Mua’dz bin Jabal
Abdurrahman bin Abi Laila berkata, “Pada masa Rasulullah saw seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam shalat jamaah bersama mereka.

Pada suatau hari Mua’dz bin Jabal datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya jumlah rakaat shalat yang telah dilaksanakan, tetapi Mua’dz langsung masuk ke dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka. namun setelah Rasulullah saw selesai shalat, maka Mua’dz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu.

Ternyata setelah Rasulullah saw selesai shalat mereka melaporkan perbuatan Mua’dz bin Jabal yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau menjawab, “Mua’dz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” (HR. Imam Ahmad dan Abi Dawud).

Hadis ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam ibadah, seperti shalat atau lainnya, selama sesuai dengan tuntunan syara’. Buktinya, Nabi sendiri tidak menegur Mua’dz bin Jabal, bahkan beliau membenarkannya, karena perbuatan Mua’dz sesuai dengan kaidah berjamaah, yaitu makmum harus mengikuti imam.

2.      Hadis Ali bin Abi Thalib ra
Sayidina Ali ra berkata, “Abu Bakar ra bila membaca al-Qur’an dengan suara lirih, sedangkan Umar ra dengan suara keras, dan Ammar bila membaca al-Qur’an mencampur antara surah ini dengan surah itu.

Kemudian hal itu dilaporkan kepada Nabi saw. sehingga beliau bertanya kepada Abu Bakar ra, “Mengapa kamu membaca dengan suara lirih?” Ia menjawab, “Allah dapat mendengar suaraku walaupun lirih”.

Lalu bertanya kepada Umar ra, “Mengapa kamu membaca dengan suara keras?” Umar menjawab, “Aku mengusir setan dan menghilangkan kantuk”.

Lalu beliau bertanya kepada Ammar ra, “Mengapa kamu mencampur surah ini dengan surah itu?” Ammar menjawab, “Apakah engkau pernah mendengarku mencampurnya dengan sesuatu selain al-Qur’an?” Nabi menjawab, “Tidak”. Lalu beliau bersabda, “Semuanya baik”. (HR Ahmad).

Hadis ini menunjukkan bolehnya membuat bid’ah hasanah dalam agama. Ketiga shahabat itu melakukan ibadah dengan caranya sendiri berdasarkan ijtihadnya masing-masing, sehingga shahabat yang lain melaporkan cara ibadah mereka yang berbeda-beda itu, dan ternyata Rasulullah saw membenarkan dan menilai semuanya baik serta tidak ada yang buruk. Dari sini dapat disimpulkan, tidak selamanya sesuatu yang belum diajarkan Rasulullah saw pasti buruk dan keliru.

BID’AH HASANAH PADA MASA SHAHABAT RA

1.      Penghimpunan al-Qur’an dalam Mushaf
Sayidina Umar ra mendatangi Khalifah Abu Bakar ra dan berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah saw, saya melihat pembunuhan dalam peperangan Yamamah telah mengorbankan para penghafal al-Qur’an, bagaimana kalau Anda menghimpun al-Qur’an dalam satu mushaf?”

Khalifah Abu Bakar ra menjawab, “Bagaimana kita akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah saw?” Umar berkata, “Demi Allah, ini baik”. Umar terus meyakinkan Abu Bakar, sehingga akhinya ia menerima uluslan Umar.

Kemudian keduanya menemui Zaid bin Tsabit ra, dan menyampaikan rencana mereka kepada Zaid.  Ia menjawab, “Bagaimana kalian akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah saw?” Keduanya menjawab, “Demi Allah, ini baik”. Keduanya terus meyakinkan Zaid, hingga akhirnya Allah swt melapangkan dada Zaid sebagaimana telah melapangakan dada Abu Bakar dan Umar ra dalam rencana ini”. (HR. Al-Bukhari).

2.      Shalat Tarawih
Abdurrahman bin Abd al-Qari berkata, “Suatu malam pada bulan Ramadan aku pergi ke masjid bersama Umar bin al-Khaththab.

Ternyata orang-orang di masjid berpencar-pencar dalam sekian kelompok. Ada yang shalat sendirian. Ada yang menjadi imam beberapa orang. Lalu Umar ra berkata, “Aku berpendapat, andaikan mereka aku kumpulkan dalam satu imam, tentu akan lebih baik”. Lalu beliau mengumpulkan mereka kepada Ubay bin Ka’ab.

Malam berikutnya aku ke masjid lagi bersama Umar, dan mereka melaksanakan shalat bermakmum pada seorang imam. Menyaksikan itu, Umar ra berkata, “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini”.

Tetapi, menunaikan shalat di akhir malam lebih bair daripada di awal malam”. Pada waktu itu, orang-orang menunaikan shalat tarawih di awal malam”. (HR al-Bukhari).

Kedua Hadis di atas menunjukkan bolehnya berkreasi dan membuat hal-hal baru yang belum pernah terjadi di masa Rasulullah saw. Rasulullah saw tidak pernah memerintahkan para shahabatnya untuk menghimpun al-Qur’an dalam mushaf dan shalat tarawih berjamaah. Akan tetapi, shahabat melakukan hal itu karena melihat ada maslahat yang lebih besar, serta untuk menolak madarrat yang lebih besar pula.

BID’AH HASANAH PASCA GENERASI SHAHABAT

1.      Pemberian Titik dalam Penulisan Mushaf
Mulai masa Rasulullah saw sampai pada masa shahabat dan bahkan sampai al-Qur’an dihimpun dalam satu mushaf pada masa Sayidina Utsman, penulisan mushaf al-Qur’an tanpa pemberian titik terhadap huruf-hurufnya semisal ba’, ta’ dan sebagainya.

Pemberian titik pada mushaf al-Qur’an baru dimulai oleh seorang ulama tabiin, Yahya bin Ya’mur (w 100 H/19 M). Al-Imam Ibnu Abi Dawud al-Sijistani meriwayatkan, “Harun bin Musa berkata, “Orang pertama kali memberi titik pada mushaf al-Qur’an adalah Yahya bin Ya’mur”. (al-Mashahif, 158).

Setelah Yahya bin Ya’mur memberi titik pada Mushaf, para ulama tidak ada yang mentangnya, meskipun Nabi saw belum pernah memerintahkan pemberian titik pada Mushaf.

2.      Bid’ah Hasanah Imam Ahmad bin Hanbal
Salah satu ulama mujtahid yang mengakui bid’ah hasanah adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Ketika beliau mendoakan gurunya dalam shalat.

Al-Hafiz al-Baihaqi meriwayatkan, “Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Saya mendoakan Imam as-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris as-Syafi’i.” (Manaqib al-Imam as-Syafi’i, 2/254).

Tentu, apa yang dilakukan Imam Ahmad bin Hanbal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw, para shahabat dan tabiin. Akan tetapi, Imam Ahmad bin Hanbal melakukannya selama empat puluh tahun.

Dari analisis historis di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa:
pertama, konsep bid’ah hasanah yang diikuti oleh kaum Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, memiliki dasar-dasar yang sangat kuat dari Hadis-Hadis shahih, perilaku para shahabat dan pradigma pemikiran ulama salaf.

Kedua, tidak semua bid’ah itu pasti jelek atau sesat sebagaimana yang dituduhkan oleh sebagian kalangan. Karena, kreasi (membuat hal baru) dalam agama itu boleh dilakukan, asalkan terdapat maslahat dan tidak menyalahi qanûn asy-syar’i.


Ketiga, hal tersebut menunjukkan bahwa agama Islam itu dinamis, tidak stagnan dan statis. Sebab, yang menjadi standar dalam penetapan hukum dalam syariat Islam adalah maslahat. Sayid Alawi al-Maliki mengatakan, “Mungkin saja makna yang tidak diunggulkan saat ini (al-ma’na al-marjuh), suatu saat mesti diunggulkan, karena ada tuntutan maslahat.” Wallahu A’lam.

Penulis: Nadi el-Madani, santri Sidogiri peminat Kajian Keislaman
http://sidogiri.net/