Haflah Khotmil Qur'an 2014

Khotmil Qur'an binnadzri dan bilhifdzi, semoga Al-Qur'an sebagai penolong kami di akhirat

Kunjungan Syeikh Kholil dari Lebanon

Syeikh Kholil bin Abdil Qodir Ad Dabbagh Al-Hasani, dari Beirut Lebanon. Alhamdulillah semoga dengan kunjungan beliau kami semua mendapatkan keberkahan... amiin

Kunjungan TV Indosiar

dalam rangka penjaringan peserta AKSI Indosiar untuk wilayah Cilacap dan sekitarnya

Raker Pengurus 2015

rapat kerja pengurus 2015 di pantai cemara sewu, di bawah pohon cemara dan desiran angin sepoi-sepoi

Lomba Hadroh Tingkat Propinsi Jawa Tengah

Mewakili Kabupaten Cilacap Lomba Hadroh Tingkat Propinsi Jawa Tengah di Semarang

Rafting Group Hadroh Tsamrotul Hidayah

Arung jeram melatih kerja team dan keberanian mengatasi rintangan

Selamat Datang Santriwati Baru, Mendidik Seorang Wanita Seperti Mendidik Satu Generasi

Rabu, 29 Juli 2015

Indahnya Bid'ah Hasanah

Definisi Bid’ah
Imam Izzuddin bin Abdissalam, ulama syafi’iyah, mendefinisikan bid’ah dalam kitabnya, Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam (2/48) sebagai berikut, “Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal (terjadi) pada masa Rasulullah saw.”

Definisi senada juga dikemukakan oleh Imam an-Nawawi. Beliau berkata, “Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang baru yang belum ada pada masa Rasulullah saw”. (Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat,3/22).

Pembagian Bid’ah
Moyoritas ulama Ahlussunnah wal Jamaah membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah madzmûmah (bid’ah yang tercela).

Dalam hal ini, Imam asy-Syafi’i –mujtahid besar dan pendiri mazhab syafi’iyah–, berkata, “Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, suatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan dan tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (al-Baihaqi, Manaqib asy-Syafi’i,1/469).

Imam an-Nawawi dalam kitabnya, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât (3/22) juga membagi bid’ah pada dua bagian. Berliau berkata, “Bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah qabîhah (jelek)”.

Lebih dari itu, pembagian bid’ah menjadi dua, juga dilegitimasi dan dibenarkan oleh Syekh Ibnu Taimiyah, rujukan paling otoritatif kalangan Wahabi. Beliau berujar, “Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. Imam Syafi’i berkata, “Bid’ah itu ada dua. Pertama, bid’ah yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Atsar sebagian sahabat Rasulullah saw. Ini disebut bid’ah dhalalah. Kedua, bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut. Ini terkadang disebut bid’ah hasanah berdasarkan perkataan Umar ra, “Inilah sebaik-baik bid’ah”. (Syekh Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, 20/163) .

Dari komentar tokoh-tokoh terkemuka di atas, dapat kita tarik benang lurus bahwa esensi bid’ah hasanah itu tidak dapat dipungkiri wujudnya. Tersebab, semua kalangan dan ulama-ulama terkemuka mengakui adanya. Bahkan, bid’ah hasanah sudah ada semenjak masa Rasulullah saw, masa shahabat dan terus berlanjut sampai pada generasi selanjutnya.

BID’AH HASANAH PADA MASA RASULULLAH SAW

1.      Hadis Shahabat Mua’dz bin Jabal
Abdurrahman bin Abi Laila berkata, “Pada masa Rasulullah saw seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam shalat jamaah bersama mereka.

Pada suatau hari Mua’dz bin Jabal datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya jumlah rakaat shalat yang telah dilaksanakan, tetapi Mua’dz langsung masuk ke dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka. namun setelah Rasulullah saw selesai shalat, maka Mua’dz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu.

Ternyata setelah Rasulullah saw selesai shalat mereka melaporkan perbuatan Mua’dz bin Jabal yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau menjawab, “Mua’dz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” (HR. Imam Ahmad dan Abi Dawud).

Hadis ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam ibadah, seperti shalat atau lainnya, selama sesuai dengan tuntunan syara’. Buktinya, Nabi sendiri tidak menegur Mua’dz bin Jabal, bahkan beliau membenarkannya, karena perbuatan Mua’dz sesuai dengan kaidah berjamaah, yaitu makmum harus mengikuti imam.

2.      Hadis Ali bin Abi Thalib ra
Sayidina Ali ra berkata, “Abu Bakar ra bila membaca al-Qur’an dengan suara lirih, sedangkan Umar ra dengan suara keras, dan Ammar bila membaca al-Qur’an mencampur antara surah ini dengan surah itu.

Kemudian hal itu dilaporkan kepada Nabi saw. sehingga beliau bertanya kepada Abu Bakar ra, “Mengapa kamu membaca dengan suara lirih?” Ia menjawab, “Allah dapat mendengar suaraku walaupun lirih”.

Lalu bertanya kepada Umar ra, “Mengapa kamu membaca dengan suara keras?” Umar menjawab, “Aku mengusir setan dan menghilangkan kantuk”.

Lalu beliau bertanya kepada Ammar ra, “Mengapa kamu mencampur surah ini dengan surah itu?” Ammar menjawab, “Apakah engkau pernah mendengarku mencampurnya dengan sesuatu selain al-Qur’an?” Nabi menjawab, “Tidak”. Lalu beliau bersabda, “Semuanya baik”. (HR Ahmad).

Hadis ini menunjukkan bolehnya membuat bid’ah hasanah dalam agama. Ketiga shahabat itu melakukan ibadah dengan caranya sendiri berdasarkan ijtihadnya masing-masing, sehingga shahabat yang lain melaporkan cara ibadah mereka yang berbeda-beda itu, dan ternyata Rasulullah saw membenarkan dan menilai semuanya baik serta tidak ada yang buruk. Dari sini dapat disimpulkan, tidak selamanya sesuatu yang belum diajarkan Rasulullah saw pasti buruk dan keliru.

BID’AH HASANAH PADA MASA SHAHABAT RA

1.      Penghimpunan al-Qur’an dalam Mushaf
Sayidina Umar ra mendatangi Khalifah Abu Bakar ra dan berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah saw, saya melihat pembunuhan dalam peperangan Yamamah telah mengorbankan para penghafal al-Qur’an, bagaimana kalau Anda menghimpun al-Qur’an dalam satu mushaf?”

Khalifah Abu Bakar ra menjawab, “Bagaimana kita akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah saw?” Umar berkata, “Demi Allah, ini baik”. Umar terus meyakinkan Abu Bakar, sehingga akhinya ia menerima uluslan Umar.

Kemudian keduanya menemui Zaid bin Tsabit ra, dan menyampaikan rencana mereka kepada Zaid.  Ia menjawab, “Bagaimana kalian akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah saw?” Keduanya menjawab, “Demi Allah, ini baik”. Keduanya terus meyakinkan Zaid, hingga akhirnya Allah swt melapangkan dada Zaid sebagaimana telah melapangakan dada Abu Bakar dan Umar ra dalam rencana ini”. (HR. Al-Bukhari).

2.      Shalat Tarawih
Abdurrahman bin Abd al-Qari berkata, “Suatu malam pada bulan Ramadan aku pergi ke masjid bersama Umar bin al-Khaththab.

Ternyata orang-orang di masjid berpencar-pencar dalam sekian kelompok. Ada yang shalat sendirian. Ada yang menjadi imam beberapa orang. Lalu Umar ra berkata, “Aku berpendapat, andaikan mereka aku kumpulkan dalam satu imam, tentu akan lebih baik”. Lalu beliau mengumpulkan mereka kepada Ubay bin Ka’ab.

Malam berikutnya aku ke masjid lagi bersama Umar, dan mereka melaksanakan shalat bermakmum pada seorang imam. Menyaksikan itu, Umar ra berkata, “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini”.

Tetapi, menunaikan shalat di akhir malam lebih bair daripada di awal malam”. Pada waktu itu, orang-orang menunaikan shalat tarawih di awal malam”. (HR al-Bukhari).

Kedua Hadis di atas menunjukkan bolehnya berkreasi dan membuat hal-hal baru yang belum pernah terjadi di masa Rasulullah saw. Rasulullah saw tidak pernah memerintahkan para shahabatnya untuk menghimpun al-Qur’an dalam mushaf dan shalat tarawih berjamaah. Akan tetapi, shahabat melakukan hal itu karena melihat ada maslahat yang lebih besar, serta untuk menolak madarrat yang lebih besar pula.

BID’AH HASANAH PASCA GENERASI SHAHABAT

1.      Pemberian Titik dalam Penulisan Mushaf
Mulai masa Rasulullah saw sampai pada masa shahabat dan bahkan sampai al-Qur’an dihimpun dalam satu mushaf pada masa Sayidina Utsman, penulisan mushaf al-Qur’an tanpa pemberian titik terhadap huruf-hurufnya semisal ba’, ta’ dan sebagainya.

Pemberian titik pada mushaf al-Qur’an baru dimulai oleh seorang ulama tabiin, Yahya bin Ya’mur (w 100 H/19 M). Al-Imam Ibnu Abi Dawud al-Sijistani meriwayatkan, “Harun bin Musa berkata, “Orang pertama kali memberi titik pada mushaf al-Qur’an adalah Yahya bin Ya’mur”. (al-Mashahif, 158).

Setelah Yahya bin Ya’mur memberi titik pada Mushaf, para ulama tidak ada yang mentangnya, meskipun Nabi saw belum pernah memerintahkan pemberian titik pada Mushaf.

2.      Bid’ah Hasanah Imam Ahmad bin Hanbal
Salah satu ulama mujtahid yang mengakui bid’ah hasanah adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Ketika beliau mendoakan gurunya dalam shalat.

Al-Hafiz al-Baihaqi meriwayatkan, “Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Saya mendoakan Imam as-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris as-Syafi’i.” (Manaqib al-Imam as-Syafi’i, 2/254).

Tentu, apa yang dilakukan Imam Ahmad bin Hanbal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw, para shahabat dan tabiin. Akan tetapi, Imam Ahmad bin Hanbal melakukannya selama empat puluh tahun.

Dari analisis historis di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa:
pertama, konsep bid’ah hasanah yang diikuti oleh kaum Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, memiliki dasar-dasar yang sangat kuat dari Hadis-Hadis shahih, perilaku para shahabat dan pradigma pemikiran ulama salaf.

Kedua, tidak semua bid’ah itu pasti jelek atau sesat sebagaimana yang dituduhkan oleh sebagian kalangan. Karena, kreasi (membuat hal baru) dalam agama itu boleh dilakukan, asalkan terdapat maslahat dan tidak menyalahi qanûn asy-syar’i.


Ketiga, hal tersebut menunjukkan bahwa agama Islam itu dinamis, tidak stagnan dan statis. Sebab, yang menjadi standar dalam penetapan hukum dalam syariat Islam adalah maslahat. Sayid Alawi al-Maliki mengatakan, “Mungkin saja makna yang tidak diunggulkan saat ini (al-ma’na al-marjuh), suatu saat mesti diunggulkan, karena ada tuntutan maslahat.” Wallahu A’lam.

Penulis: Nadi el-Madani, santri Sidogiri peminat Kajian Keislaman
http://sidogiri.net/

Tawassul Itu Sunnah (2)

Tawassul adalah salah satu cara yang ditempuh warga Nahdliyin dalam berdoa atau memohon kepada kepada Allah SWT. Tawassul dilakukan dengan suatu wasilah atau segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai sebab atau perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah agar suatu permohonan dapat dikabulkan.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman takutlah kamu kepada Allah, dan  carilah jalan (wasilah/perantara). (QS al-Maidah: 35)

Tawassul  bisa dilakukan dengan wasilah amal dan wasilah orang-orang yang dekat dengan Allah. Wasilah dengan amal (al-Tawassul bi al-‘Amal al-Salih) di antaranya ialah dengan iman. Iman sebagai wasilah yang menjadikan menusia dekat kepada Allah SWT. Ibadah dan amal kebajikan juga dapat menjadikan wasilah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Amar ma’ruf dan nahi mungkar juga termasuk wasilah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, berdo’a dengan memakai wasilah yang pertama ini direkomendasikan oleh para ulama. 

Tawassul yang kedua dilakukan dengan wasilah orang-orang yang dekat kepada Allah seperti para nabi, para rasul, sahabat-sahabat Rasulullah SAW, para sahabat, para tabi’in, para shuhada, para ulama’ dan para wali. Semua doa dan permintaan tetap ditujukan kepada Allah. Bertawassul dengan wasilah orang-orang yang dekat kepada Allah maksudnya adalah berdoa dan meminta kepada Allah SWT di sisi orang yang dicintai oleh Allah, atau menghadap orang-orang yang mendapatkan tempat terhormat di sisi Allah.

Bertawassul kepada orang-orang yang dicintai oleh Allah dapat dilakukan pada saat mereka masih hidup (al-Tawassul bi al-Ahya’) atau sudah meninggal dunia (al-Tawassul bi al-Amwat). Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa manusia yang telah meninggal dunia masih aktif berkomunikasi dengan yang masih hidup. Rasulullah SAW dan para ahli kubur lainnya dapat menjawab salam saudara-saudara mereka yang mengucap salam. Rasulullah SAW bersabda:

Siapa pun yang mengucapkan salam kepadaku, Allah akan mengembalikan ruhku untuk menjawab salam itu. (HR Abu Dawud)

Bertawassul dengan orang-orang yang dekat dengan Allah SWT dimaksudkan agar mereka ikut memohon atas apa yang diminta kepada Allah. Bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah SWT seperti para nabi, para rasul dan para salihin, pada hakekatnya tidak bertawassul dengan dzat mereka, tetapi bertawassul dengan amal perbuatan mereka  yang shalih. Karenanya, bertawassul itu tidak dengan orang-orang yang ahli ma’siat, pendosa yang menjauhkan diri dari Allah, dan juga tidak bertawassul dengan pohon, batu, gunung dan lain-lain.

Tidak ada perbedaan antara bertawassul kepada orang-orang yang dicintai oleh Allah pada saat mereka masih hidup atau sudah meniggal dunia. Tujuan bertawassul adalah mengharap berkah dari orang-orang yang dicintai oleh Allah sementara semua pemberian dan kemanfaatan hanyalah kepunyaan Allah. Allahlah yang akan mengabulkan semua keinginan hamba-Nya yang berdoa.

Orang-orang yang telah meninggal akan rusak dan hancur badannya atau jasadnya saja, sedang rohnya tetap hidup dan tidak mati. Mereka berada di alam barzah. Suatu riwayat menyebutkan bahwa di alam barzah Nabi Muhammad SAW menyaksikan perilaku umatnya di dunia. Jika umatnya berbuat baik maka beliau mengucap hamdalah, jika mereka berbuat kejelekan maka nabi memintakan ampun kepada mereka.

Penjelasan hadits di atas juga didukung oleh riwayat lain yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW selalu menyampaikan salam setiap melewati kubur. Ini menunjukkan bahwa ahli kubur pun menjawab salam yang diucapkan oleh orang yang masih hidup. Rasulullah SAW menyampaikan salam:

“Keselamatan atas engkau wahai ahli kubur, mudah-mudahan Allah mengampuni kami dan mengampuni kalian, kalian pendahulu kami dan kami mengikuti jejak kalian".

Bertawassul dengan ahli kubur bertujuan agar ahli kubur bersama-sama dengan pendo’a memohon kepada Allah.


Dalam beberapa hadits, Rasulullah juga menjawab salam orang yang menyampaikan salam kepadanya. Artinya, di dalam kubur mereka juga mendo’akan Rasulullah dan para pemberi salam atau yang bertawassul. (A. Khoirul Anam)