:: Selamat Datang di Website Resmi YAYASAN MIFTAHUL HUDA KROYA CILACAP, Pondok Pesantren Putri Al Hidayah :: ::

Cinta Sejati Sepanjang Masa

Posted by alhidayahkroya Senin, 11 Maret 2013 2 komentar

Zainab radliallâhu ‘anha dilahirkan sepuluh tahun sebelum ayah beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam diangkat sebagai Nabi. Beliau adalah putri pertama Rasulullah dari istri beliau ummul mukminin, Khadijah binti Khuwailid radliallâhu ‘anha.
Zainab tumbuh dalam kelurga nubuwwah dengan meneguk akhlak dan kebiasaan kedua orang tuanya secara langsung. Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam  diutus sebagai rahmat untuk sekalian alam yang memiliki akhlak yang agung, sedangkan Khadijah adalah sayyidah wanita seluruh alam. Maka tumbuhlah Zainab radliallâhu ‘anha menjadi teladan yang utama dalam seluruh sifat-sifat yang terpuji.
Hampir sempurnalah sifat kewanitaan Zainab sehingga putra dari bibinya yang bernama Abu al-’Âsh bin Rabî’, salah seorang yang terpandang di Makkah dalam hal kedudukan dan harta berhasrat untuk melamar beliau. Dia adalah pemuda Quraisy yang tulus dan bersih, nasabnya bertemu dengan Nabi dari jalur bapaknya, yakni pada ‘Abdi Manaf bin Qushai. Adapun dari jalur ibu, nasabnya bertemu dengan Zainab pada kakek mereka berdua yakni Khuwalid. Karena ibunya adalah Hâlah binti Khuwalid, saudari Khadijah yang merupakan istri dari nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam .
Abu al-’Âsh mengenal betul tentang kepribadian dan sifat Zainab karena dia sering berkunjung ke rumah bibinya yakni Khadijah. Begitu pula Zainab dan kedua orang tuanya juga telah mengenal bagusnya Abu Al-‘Âsh. Oleh karena itu diterimalah lamaran dari pemuda yang telah diridhai Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam  dan Khadijah, juga oleh Zainab.
Maka masuklah Zainab ke dalam rumah tangga suaminya yakni Abu al-‘Âsh. Dalam usianya yang masih muda, Zainab mampu mengatur rumah tangga suaminya hingga menumbuhkan kebahagiaan dan ketentraman. Allah mengkaruniai mereka dalam perkawaninan ini dua orang anak yang bernama ‘Ali dan Umâmah. Maka semakin sempurnalah kabahagiaan rumah tangga dengan kehadiran keduanya dalam rumah yang penuh dengan kebahagiaan dan kenikmatan.
Pada suatu saat ketika Abu al-’Âsh berada dalam suatu perjalanan, terjadilah perisiwa besar dalam sejarah kehidupan manusia yaitu diangkatnya Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam  sebagai Nabi dengan membawa risalah. Bersegeralah Zainab menyambut seruan dakwah yang haq yang dibawa orang tuanya sendiri yakni Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam.  Beliau jadikan Dienullah sebagai pedoman hidup dan undang-undang yang mana beliau berjalan diatasnya.
Tatkala suaminya kembali dari berpergian, Zainab menceritakan perubahan yang terjadi pada kehidupannya yang mana bersamaan dengan kepergian suaminya muncullah dien yang baru dan lurus. Beliau menduga bahwa suaminya akan bersegera menyatakan keislamannya. Akan tetapi beliau mendapatkan suaminya mensikapi kabar tersebut dengan diam dan tidak bereaksi.

Kemudian Zainab mencoba dengan segala cara untuk meyakinkan suaminya, namun ia menjawab: ”Demi Allah! bukannya aku tidak percaya dengan ayahmu, hanya saja aku tidak ingin dikatakan bahwa aku telah menghina kaumku dan mengkafirkan agama nenek moyangku karena ingin mendapatkan keridhaan istriku”.
Hal itu merupakan pukulan yang telak bagi Zainab karena suaminya tak mau masuk islam. Maka  isi rumah tangga menjadi guncang dan gelisah. Dan tiba-tiba kegembiraan berubah menjadi kesengsaraan.
Zainab-pun tinggal di Mekkah di rumah suaminya dan tidak ada seorang pun disekelilingnya yang dapat meringankan penderitaannya karena jauhnya dirinya dengan kedua orang tuanya. Ayahnya telah berhijrah ke Madinah ath-Thayyibah bersama-sama sahabatnya sedangkan ibunya telah menghadap Ar-Rafiiqul A’la. Dan saudari-saudarinya pun telah menyusul ayahnya di bumi Hijrah. Tatkala pecah perang Badar, kaum musyrikin mengajak Abu al-‘Âsh keluar bersama mereka untuk memerangi kaum muslimin. Akhirnya suaminya mengalami nasib jadi tawanan kaum muslimin. Tatkala Abu al-‘Âsh dihadapkan kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam  bersabda kepada para sahabat :  “Perlakukanlah tawanan ini dengan baik”.
Ketika itu Zainab mengutus seseorang untuk menebus suaminya dengan harta yang dibayarkan kepada ayah beliau beserta kalung yang dihadiahkan ibu beliau yakni Khadijah radliallâhu ‘anha, tatkala pernikahannya dengan Abu al-’Âsh. Tiada henti-hentinya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam   memandang kalung tersebut sehingga menganyutkan hati beliau untuk mengenang istrinya yang setia yakni Khadijah yang telah menghadiahkan kalung tersebut kepada putrinya. Yang mana Zainab tidak mendapatkan sesuatu yang lebih berharga untuk menebus suaminya yang dicintainya, juga putra bibi yang dekat dengannya. Hal ini mengetuk hati Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam  dan para sahabatnya karena betapa mengharukan kisah tersebut. Setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam  beberapaa saat terdiam, beliau lalu bersabda dengan lembut dan santun :
“Jika kalian melihat bahwa membebaskan tawanan tersebut dan mengembalikan harta tebusannya (sebagai suatu kebaikan), maka lakukanlah!“. Para sahabat semuanya berkata :”Baik ya Rasulullah”.
Selanjutnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam  mengambil janji dari Abu al-‘Âsh agar membiarkan jalan Zainab (untuk hijrah) karena islam telah memisahkan hubungan antara keduanya.
Maka kembalilah Abu al-‘Âsh menuju Mekkah sementara Zainab menyambutnya dengan riang gembira. Akan tetapi Abu al-‘Âsh datang dalam keadaan lesu ada tersirat rasa kesedihan, kemudian dia berkata kepada istrinya sedangkan kepalanya tertunduk,”Aku datang untuk berpisah, wahai Zainab!”. Maka berubahlah sikap Zainab dari riang gembira menjadi sedih serta meneteskan air mata.
Beliau bertanya dengan terbata-bata: ” Hendak ke mana? Dan untuk keperluan apa wahai suamiku yang kucintai?”.
Berkatalah Abu al-‘Âsh sedangkan kedua matanya menatap wajah Zainab: ”Bukan saya yang akan pergi wahai ZainaB, akan tetapi kamulah yang akan pergi. Karena ayahmu telah meminta kepadaku agar aku mengembalikanmu kepadanya sebab Islam telah memisahkan hubungan diantara kita. Aku juga telah berjanji akan menyuruhmu untuk menyusul ayahmu,dan tidak mungkin bagiku untuk memungkiri janji”.
Maka keluarlah Zainab dari Makkah, meninggalkan Abu al-‘Âsh dengan perpisahan yang sangat mengharukan. Akan tetapi orang-orang Quraisy menghalangi hijrah beliau dengan mencegah dan mengancam beliau. Ketika itu beliau sedang hamil dan akhirnya kandungannya mengalami keguguran. Selanjutnya beliau kembali ke Makkah dan Abu al-‘Âsh merawatnya hingga kekuatannya pulih kembali. Kemudian beliau keluar pada suatu hari disaat orang-orang Quraisy lengah perhatiannya. Beliau keluar bersama saudara Abu al-‘Âsh yang bernama Kinânah bin ar-Rabî’ hingga sampai pada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam  dengan aman.
Berlalulah masa selama enam tahun beserta peristiwa-peristiwa besar yang menyertainya, sedang Zainab berada dalam naungan ayahnya di Madinah. Beliau hidup dengan optimis tak kenal putus asa, yakni berusaha agar Allah melapangkan dada Abu al-‘Âsh untuk masuk Islam.
Pada bulan Jumadil Ula, tahun 6 H, tiba-tiba Abu al-‘Âsh mengetuk pintu Zainab, kemudian Zainab membuka pintu tersebut. Seolah-olah beliau tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sehingga beliau ingin mendekat dengannya, namun beliau menahan dirinya karena seharusnyalah memastikan tentang ‘aqidahnya, karena ‘aqidah adalah yang pertama dan yang terakhir.
Abu al-’Âsh menjawab: ”Kedatanganku bukanlah untuk menyerah, akan tetapi aku keluar untuk berdagang membawa barang-barangku dan juga milik orang-orang Quraisy, namun tiba-tiba aku bertemu dangan pasukan ayahmu yang didalamnya ada Zaid bin Hâritsah bersama 170 tentara. Selanjutnya mereka mngambil barang-barang yang aku bawa dan akupun melarikan diri. Baru  sekarang aku mendatangimu dengan sembunyi-sembunyi untuk meminta perlindunganmu”.
Zainab yang memiliki ‘aqidah yang bersih berkata dengan rasa sedih dan iba: “Marhaban (selamat datang), wahai putra bibi.. Marhaban (selamat datang) wahai ayah ‘Ali dan Umâmah”.
Tatkala Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam  selesai shalat shubuh, dari dalam kamar Zainab berteriak dengan suara yang keras: “Wahai manusia sesungguhnya aku melindungi Abu al-‘Âsh bin Rabî’. Maka keluarlah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam seraya bersabda: “Wahai manusia apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?”.
Mereka menjawab:”benar, kami mendengarnya,  wahai Rasulullah!”.
Beliau bersabda: “Demi Yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tiadalah aku mengetahui hal ini sedikitpun hingga aku mendengar sebagaimana yang kalian dengar. Dan orang-orang yang beriman harus menolong sesama  mereka dan memberikan perlindungan kepada orang yang dekat dengan mereka, dan sungguh kita telah melindungi orang yang dilindungi oleh Zainab”.
Kemudian masuklah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam, menemui putri beliau, Zainab kemudian bersabda:
“Muliakanlah tempatnya dan janganlah dia berbuat bebas terhadapmu, karena kamu tidak halal baginya”
Selanjutnya Zainab memohon ayahnya agar mau mengembalikan harta dan barang-barang Abu al-’Âsh. Maka keluarlah Rasulullah menuju tempat dimana para sahabat sedang duduk-duduk. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya laki-laki ini sudah kalian kenal. Kalian telah mengambil hartanya; jika kalian rela, maka kembalikanlah harta itu kepadanya dan saya menyukai hal itu, namun jika kalian menolaknya maka itu adalah fai’ (rampasan) yang Allah karuniakan kepada kalian dan apa yang telah Allah berikan kepada kalian maka kalian lebih berhak terhadapnya”.
Para sahabat menjawab dengan serentak: “Bahkan kami akan mengembalikan seluruhnya wahai Rasulullah”. Maka merekapun mengembalikan seluruh hartanya seolah-olah dia tidak pernah kehilangan sama sekali.
Selanjutnya Abu al-’Âsh pergi meninggalkan Zainab, dia menuju Mekkah dengan membawa sebuah tekad. Tatkala orang-orang Quraisy melihat kedatangannya dengan membawa dagangan mereka beserta labanya, maka mulailah Abu al-’Âsh mengembalikan setiap yang berhak, kemudian beliau berdiri dan berseru: “Wahai orang-orang Quraisy masih adakah diantara kalian yang hartanya masih berada ditanganku dan belum diambil?”.
Mereka menjawab, “Tidak! semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sungguh kami dapatkan bahwa anda adalah seorang yang setia dengan janji dan mulia”.
Kemudian ditempat inilah Abu al-’Âsh berkata: “Adapun aku, aku bersaksi bahwa tiada ilâh (Tuhan) yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Demi Allah! tiada yang menghalangi diriku (tatkala di Madinah) untuk masuk Islam melainkan karena khawatir kalian menyangka bahwa aku hanyalah ingin melarikan harta kalian. Maka tatkala Allah mengembalikan barang-barang kalian dan sudah aku laksanakan  tanggung jawabku maka akupun masuk Islam”.
Abu al-’Âsh bertolak ke Madinah sebagai seorang Muslim. Beliau berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, dan disanalah beliau bertemu orang yang dia cintai yakni Muhammad dan para sahabatnya. Akhirnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam  mengembalikan Zainab radliallâh ‘anha  kepada  Abu al-’Âsh sehingga berkumpullah keduanya. Mereka bangun kembali rumah tangga sebagaimana sebelumnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Akan tetapi mereka sekarang berkumpul dalam ‘aqidah yang satu yang tidak dikotori oleh apapun.
Masa selama satu tahunpun  berlalu, kemudian tibalah saatnya perpisahan yang tidak lagi akan bertemu di dunia yang fana ini, sebab Sayyidah Zainab radliallâhu ‘anha wafat pada tahun 8 Hijriyah karena sakit yang masih membekas pada saat keguguran ketika beliau hijrah. Abu al-‘Âsh menangisi kepergiannya hingga membuat orang-orang di sekitarnya turut menangis. Kemudian datanglah ِayahanda Zainab, RasulullahShallallâhu ‘alaihi wasallam dalam keadaan sedih dan mengucapkan selamat tinggal lalu bersabda kepada para wanita :
Basuhlah (jasadnya) dengan bilangan yang ganjil, tiga atau lima kali, dan yang terakhir dengan kapur barus atau sejenisnya. Apabila kalian selesai memandikan beritahukanlah kepadaku”.
 Tatkala mereka telah setelah memandikan, beliau memberikan kain penutup dan bersabda:”pakaikanlah ini kepadanya”
Semoga Allah merahmati Zainab al-Kubra binti Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallamyang telah bersabar, berjuang dan bermujahadah, semoga Allah membalas amalan beliau seluruhnya dengan balasan yang baik.  (dimurâja’ah pada hari Jum’at, 10-05-1423 H = 19-07-2002 M)
sumber : klik
Read More..

“Kenapa ‘Amrun Selalu Dipukuli Zaid?”

Posted by alhidayahkroya Rabu, 06 Maret 2013 1 komentar
Kisah Dalam Ilmu Nahwu
Dikisahkan seorang gubernur bernama Daud Basya dari daulah Utsmaniyah ingin belajar bahasa Arab. Lalu dia menghadirkan salah seorang ulama dari para ulama di negerinya.

Suatu hari dia bertanya kepada gurunya: “Apa kesalahan si ‘Amrun sampai-sampai si Zaid memukulnya tiap hari. Apakah ‘Amrun berkedudukan lebih rendah dari Zaid sehingga Zaid bebas memukulnya, menyiksanya dan Amrun tidak bisa membela dirinya?”

Si gubernur menanyakan hal ini sambil menghentakkan kakinya ke tanah sembari marah-marah.

Lalu gurunya menjawab: “Tidak ada yang dipukul, tidak ada yang memukul wahai gubernur. Ini cuma permisalan saja yang dibuat ulama nahwu supaya memudahkan untuk belajar ilmu lughat itu.”

Lalu jawaban ini tidak dapat memuaskan sang gubernur dan ia marah. Lalu ia penjarakan gurunya tadi. Kemudian ia menyuruh orang mencari ulama nahwu yang lain. Lalu ia tanya kepada mereka seperti pertanyaan itu, dan mereka jawab dengan jawaban seperti ulama yang pertama tadi. Lalu mereka juga terpenjara.

Satu persatu ulama negeri itu tidak dapat memuaskan gubernur dengan jawabannya. Akhirnya penuhlah penjara dan sunyilah madrasah-madrasah dari guru-guru pengajar dikarenakan ulamanya semua terpenjara.

Kejadian ini menjadi pembahasan di mana-mana dan bagaimana mencari jalan keluarnya. Kemudian ia utus seorang utusan untuk menjemput para ulama ahli bahasa di Baghdad untuk dihadirkan di hadapannya.

Akhirnya pimpinan ulama yang paling alim dari para ulama Baghdad ini berani maju menjawab pertanyaan sang gubernur. Maka gubernur Daud bertanya: “Apa kesalahan ‘Amrun sehingga selalu dipukul Zaid?”

Maka sang ulama menjwb: “Kesalahan ‘Amrun adalah karena ia telah mencuri huruf waw yang seharusnya itu milik Anda wahai gubernur”, sambil ulama tadi mengisyaratkan adanya huruf waw di kalimat ‘Amrun setelah ra’. “Dan huruf waw yang seharusnya ada 2 di kalimat Daud ternyata cuma ada 1. Maka para ulama nahwu menguasakan si Zaid untuk selalu memukul ‘Amrun sebagai hukuman atas perbuatannya itu.”

Maka sangat puaslah sang gubernur dengan jawaban ini seraya memuji-muji ulama tadi. Kemudian sang gubernur menawarkan hadiah: “Apa saja yang kamu kehendaki silakan sebutkan.”

Lalu ulama tadi menjawab: “Aku cuma minta agar para ulama yang Anda penjarakan dibebaskan semuanya.”

Maka gubernur mengabulkannya dan akhirnya para ulama itu bebas dari penjara. Kemudian para ulama dari Baghdad tadi diberi hadiah sekaligus diberi uang transport dan diantar kembali ke negeri mereka.

(Lihat dalam an-Nadzorot jilid 1 halaman 307 karya asy-Syeikh Mushthafa Luthfi bin Muhammad Luthfi al-Manfaluthiy Mesir).
Oleh : Kang Arul
Read More..

Fitnah Tentang Syaikh Siti Jenar

Posted by alhidayahkroya Selasa, 22 Januari 2013 2 komentar
Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini, dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah dewasa mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban, sebelah tenggara Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit.

Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya adalah Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan ’Ali] bin Sayyid Shalih bin Sayyid ’Isa ’Alawi bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan bin Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin Sayyid 'Ali Khali Qasam bin Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah bin Sayyid 'Alwi al-Mubtakir bin Sayyid 'Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid 'Isa An-Naqib bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi bin Imam Ja'far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia 12 tahun.

Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Saat itu. KesultananMalak­a adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani. Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.

Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.

Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.

Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada Siti Jenar yang pada waktu itu berusia 20 tahun. Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu:

1.Maulana Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, dari sanad sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan sekitarnya

2.Sayyid Ahmad Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir dan sekitarnya,

3.Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara

4.Sayyid Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan, India, Yaman.

Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.

Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.

Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya­ sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy, dan lain-lain.

KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:

1.Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini bertentangan dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Ini adalah sejarah bohong. Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….

2.“Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.

3.Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..­Allah” dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.

4.Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi anjing. Bantahan saya: “Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun.Manus­ia lahir dari manusia dan akan wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.“

5.Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong. Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambah­i, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron. Bantahan saya: “Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah. Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama. Tidak bisa diterima akal sehat.”

Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah mengklasifikasi­kan umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera [Politik Pecah Belah] dengan 3 kelas:

1)Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali]
2)Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak]
3)Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar]

Wahai kaum muslimin melihat fenomena seperti ini, maka kita harus waspada terhadap upaya para kolonialist, imprealis, zionis, freemasonry yang berkedok orientalis terhadap penulisan sejarah Islam. Hati-hati jangan mau kita diadu dengan sesama umat Islam. Jangan mau umat Islam ini pecah. Ulama’nya pecah. Mari kita bersatu dalam naungan Islam untuk kejayaan Islam dan umat Islam. 

Oleh: KH.Shohibul Faroji Al-Robbani

Read More..

KH Mukhtar Syafa’at, Blok Agung Banyuwangi

Posted by alhidayahkroya Kamis, 17 Januari 2013 0 komentar
Salah satu ulama terkemuka di Banyuwangi ini terkenal dengan sikap dan perilaku yang menjadi panutan umat. Dialah KH Mukhtar Syafa’at, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Jajag, Banyuwangi.

Suatu waktu, Kyai Dimyati (putra KH Ibrahim) mengalami jadzab (“nyleneh”).  Ia mengusir Syafa’at dan kedua sahabatnya yang bernama Mawardi dan Keling. Ketiganya adalah santri yang dibencinya. Saat Kyai Syafa’at sedang mengajar, Kyai Dimyati (Syarif) melemparinya dengan maksud agar Syafa’at meninggalkan pondok. Akhirnya Syafa’at meningalkan Pondok Pesantren Jalen Genteng yang diikuti oleh salah satu santri yang bernama Muhyidin, santri asal Pacitan ke kediaman kakak perempuannya Uminatun yang terletak di Blokagung.

Perjuangan beliau dimulai dari musholla milik kakaknya. Mula-mula beliau mengajarkan Al Qur’an dan beberapa kitab dasar kepada para pemuda masyarakat sekitar, dan diikuti oleh para santri yang dulu pernah belajar di Pondok Pesantren Jalen. Beberapa bulan berikutnya musholla tersebut tidak dapat lagi menampung para santri yang ingin belajar kepadanya.

Melihat kondisi yang demikian, Kyai Syafa’at merasa prihatin sehingga berkeinginan untuk pindah ke luar daerah Blokagung. Namun oleh Kyai Sholehan dilarang dan bahkan kemudian dinikahkan dengan seorang gadis bernama Siti Maryam, putri dari bapak Karto Diwiryo Abdul Hadi.

Setelah menikah, beliau pindah ke rumah mertuanya. Di tempat yang baru ini juga sudah ada mushollanya dengan ukuran 7 x 7 meter. Dalam kurun waktu satu tahun, jumlah santri yang belajar bertambah banyak sehingga musholla ini juga tidak cukup untuk menampung santri. Kemudian muncullah ide untuk mendirikan sebuah masjid yang lebih besar untuk keperluan sholat dan belajar. Beliau memerintahkan para santri untuk mengumpulkan bahan bangunan untuk keperluan pendirian masjid. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 15 Januari 1951. Dalam perkembangan selanjutnya tanggal inilah yang dijadikan sebagai peringatan berdirinya Pondok Pesantren Darussalam Blokagung. Dalam mendirikan pondok pesantren ini beliau dibantu oleh temanya Kyai Muhyidin dan Kyai Mualim.

Itulah sekilas latar belakang KH Muktar Syafa’at Abdul Ghafur seorang ulama dan guru panutan umat. Ia lahir di dusun Sumontoro, Desa Ploso Lor, Kec Ploso Wetan, Kediri, 6 Maret 1919. Ia adalah putra keempat dari pasangan suami-isteri KH Abdul Ghafur dan Nyai Sangkep. Kalau dilihat dari silsilah keturunan, KH Mukhtar Syafa’at merupakan salah seorang keturunan pejuang dan ulama, dari silsilah ayahnya, KH Mukhtar Syafa’at putra dari Syafa’at bin Kyai Sobar Iman bin Sultan Diponegoro III (keturunan prajurit Pangeran Diponegoro) dan garis ibu, yaitu Nyai Sangkep binti Kyai Abdurrohman bin Kyai Abdullah (keturunan prajurit Untung Suropati).

Sejak usia kanak-kanak (4 tahun), Syafa’at telah menunjukkan sikap dan perilaku cinta terhadap ilmu pengetahuan dan berkemauan keras mendalami agama Islam. Setiap sore hari, ia tekun mengaji ke mushola terdekat yang saat itu diasuh oleh Ustadz H. Ghofur. Dari sinilah ia mulai belajar membaca Al-Qur’an. Pada tahun 1925 (usia 6 tahun), Syafa’at kemudian mengaji ke Kyai Hasan Abdi selama 3 tahun di desa Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi.

Selepas dikhitan pada tahun 1928, ia kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu diasuh oleh KH. Hasjim Asy’ari. Di pesantren ini, ia seperti umumnya santri-santri lain mendalami ilmu-ilmu agama Islam seperti Ilmu Nahwu, Shorof, Fiqih, Tafsir Al-Qur’an dan Akhlaq Tasawuf.

Setelah 6 tahun menimba ilmu di Pondok Tebuireng, pada tahun 1936 ia diminta pulang oleh ayahnya agar saudaranya yang lain secara bergantian dapat mengenyam pendidikan pesantren. Permintaan tersebut ditampiknya secara halus, karena ia ingin mendalami dan menguasai ilmu-ilmu pesantren. Atas saran salah satu kakaknya, yakni Uminatun (Hj. Fatimah) pada tahun 1937 ia akhirnya meneruskan studi ke Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumber Beras, Muncar, Banyuwangi yang diasuh KH. Abdul Manan.

Selama menjadi santri di ponpes Minhajut Thulab, Syafa’at sering jatuh sakit. Setelah satu tahun, ia akhirnya pindah lagi ke Ponpes Tasmirit Tholabah yang diasuh oleh KH Ibrahim. Di pondok ini selain belajar, ia juga dipercaya oleh KH Ibrahim untuk mengajar ke santri lain. Di Pondok ini juga, Syafa’at mulai mengkaji ilmu-ilmu tasawuf, seperti belajar kitab Ihya Ulumiddin karya Syeikh Imam Al-Ghozali.

Pemahaman ini tidak sebatas pelajaran teori saja, namun juga ia praktekan secara langsung seperti saat mandi, shalat fardhu, dan berhubungan dengan lain jenis. Saat mandi, ia tidak pernah menanggalkan seluruh pakaiannya, dan tidak pernah melihat auratnya. Selain itu, selama di Ponpes Tasmirit Tholabah ia senantiasa shalat berjamaah di masjid. Padahal, ia termasuk kriteria “santri kasab”, yaitu santri yang mondok sambil bekerja kepada masyarakat sekitar.

Selama masih menuntut ilmu dan merasa belum waktunya menikah, Mukhtar Syafa’at senantiasa memelihara diri dan menjaga jarak dengan hubungan lain jenis. Suatu hari, ia oleh teman-teman santri dijodoh-jodohkan dengan seorang gadis masyarakat sekitar Pondok Tasmirit Tholabah. Apa reaksinya? Ia justru bersikap dan berperilaku layaknya orang gila dengan cara memakai pakaian yang tidak wajar. Dengan demikian, gadis yang dijodoh-jodohkan tersebut beranggapan bahwa Syafa’at adalah benar-benar gila, dan praktis keberatan bila dijodohkan.

Pengembaraan Kyai Syafaat dalam menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang menuntut perjuangan, ketabahan hati dan pengorbanan. Ia seringkali dalam situasi dan kondisi yang memprihatinkan. Salah seorang sahabatnya ketika belajar di Ponpes Tasmirit Tholabah, KH Mu’allim Syarkowi menuturkan keadaannya, ”KH Syafa’at (Alm.) ketika belajar di Pondok Tasmirit Tholabah, Jalan Genteng Banyuwangi, sangatlah menderita. Ia sering jatuh sakit, terutama penyakit kudis (gudik). Disamping itu, ia tidak mendapat kiriman dari orang tuanya sehingga harus belajar sambil bekerja. Apabila musim tanam dan musim panen tiba, kami harus mendatangi petani untuk bekerja. Pagi-pagi benar kami harus sudah berangkat dan menjelang Dzuhur kami baru pulang. Sedangkan malam hari kami gunakan untuk belajar mengaji.”

Walaupun dalam kondisi yang memprihatinkan, Kyai Syafa’at tetap bersikeras untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam. Semasa masa pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945, ia juga turut berperan aktif dalam bela negara dan merebut kemerdekaan RI. Oleh teman-teman seperjuangan, ia diangkat sebagai juru fatwa dan sumber ide dalam penyerangan. Setiap akan melangkah, mereka meminta pertimbangan dahulu kepada Syafa’at.

Pada jaman pendudukan Jepang, Syafa’at tidak luput dari gerakan Dai Nippon Jepang yang bernama Hako Kotai, yaitu gerakan pemerasan terhadap harta, jiwa dan harta bangsa Indonesia demi kemenangan Perang Asia Timur Raya. dalam gerakan ini, Syafa’at diwajibkan mengikuti kerja paksa selama 7 hari di Tumpang Pitu (pesisir laut pantai selatan teluk Grajagan dan Lampon). Ia dipekerjakan sebagai penggali parit perlindungan tentara Jepang.

Saat Belanda mendarat di pelabuhan Meneng, Sukowati, Banyuwangi Syafa’at tidak tinggal diam. Ia bergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat yang dipimpin Kapten Sudarmin. Syafa’at juga turut aktif melakukan penyerbuan ke kamp-kamp tentara Belanda saat perang gerilya dengan bergabung dalam Font Kayangan Alas Purwo dan Sukamande kecamatan Pesangaran yang dipimpin Kyai Muhammad dan Kyai Musaddad.

Lepas dari alam penjajahan Jepang dan Belanda, tepatnya pada tahun 1949 ia mulai merintis berdirinya Pesantren Darussalam. Setelah melalui perjuangan yang berat, pesantren Darussalam akhirnya berkembang dari waktu ke waktu dan jumlah santrinya pun semakin bertambah banyak. Ini tak lepas dari sosok pendiri dan pengasuh pesantren KH Syafa’at yang menjadi sosok teladan sekaligus panutan umat.

Ia juga kerap dimintai pertolongan untuk melakukan pengobatan masyarakat. Dengan cara menulis lafadz ya’lamuuna, selepas itu pada huruf ‘Ain ditancapkan paku sambil dipukul palu. Sesekali KH Syafa’at menanyai pasien, apakah masih sakit atau tidak. Kalau masih sakit, dipukul lagi dan jika makin parah maka pada huruf Mim juga akan ditancapkan paku dan dipukul lagi sebagaimana huruf ‘Ain. Konon, pengobatan tradisional ini banyak melegakan pasien. Selain itu, ia juga sering dimintai untuk mengobati dan menangkal gangguan santet dan sejenisnya. Sehingga rumahnya kerap dikunjungi para tamu dari berbagai daerah. “Kalau kalian mengetahui ada tamu, maka beri tahu saya. Kalau saya tidak ada atau bepergian, silahkan tamu tersebut singgah ke rumah barang sejenak dan hormatilah mereka dengan baik. Kemudian, pintu rumah jangan ditutup sebelum jam 22.00,” demikian pesan KH. Syafa’at kepada keluarga dan para santri.

KH Syafaat juga dikenal sebagai pribadi yang penuh kesedehanaan, qana’ah, teguh menjagamuru’ah (harga diri) dan luhur budinya. Ia tidak pernah merasa rendah di hadapan orang-orang yang kaya, apalagi sampai merendahkan diri pada mereka dan ia tidak malas beribadah karena kefakirannya. Bahkan jika disedekahi harta, ia tidak mau menerima. Sekalipun diterima itu pun hanya sebatas yang diperlukan saja, tidak tamak untuk mengumpulkannya.

Bahkan Kyai Sya’aat dikenal punya semangat memberi dan memuaskan setiap orang yang datang kepadanya. Pernah suatu saat Kyai Syafa’at akan berangkat Haji, terlebih dahulu ia berziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Lepas dari komplek makam, ia bertemu dengan ratusan pengemis dan ia memberikan shodaqah kepada para pengemis di sekitar makam sampai uangnya habis. Bahkan karena sebagian pengemis itu tidak kebagian, ia kemudian menyuruh salah satu santrinya untuk mencarikan hutangan sejumlah empat juta rupiah kepada Masyhuri di Surabaya untuk disedekahkan kepada para pengemis yang tidak kebagian.

Tidak hanya itu, sering uang bisyaroh selepas mengisi pengajian di banyak tempat di berikan langsung kepada orang-orang yang tidak dikenalnya, tanpa menghitung jumlah uang yang diterimanya. Selain dermawan akan harta dan ilmu, KH Syafa’at dikenal seorang ulama yang wira’i ( menjaga kehormatan).

Suatu ketika Kyai bepergian dengan ditemani oleh salah satu sopir, H Mudhofar, sampai di Karangdoro mobilnya rusak (mogok). Akhirnya mobil dibenahi dan oleh H. Mudhofar diambilkan batu bata untuk mengganjal mobil, di salah satu perumahan penduduk. Setelah selesai, mobil berjalan dan KH Syafa’at bertanya, ”Batu bata itu milik siapa? Kalau punya orang, kembalikan!” Akhirnya mobil berhenti dan batu bata tersebut oleh H. Mudhofar dikembalikan ke tempatnya semula.

Selain aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, KH. Syafa’at juga aktif dalam Jami’ah Keagamaan Nahdlatul Ulama. Tercatat, ia pernah menjadi pengurus dari tingkat ranting sampai cabang. Jabatan terakhirnya adalah sebagai salah satu Musytasyar wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.

KH Syafa’at pada hari Jumat malam, 1 Februari 1991 (17 Rajab 1411 H) dengan meninggalkan 14 anak (10 putra, 4 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Siti Maryam dan 7 anak (4 putra, 3 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Hj Musyarofah. Jenazah setelah disemayamkan di rumah duka dan dishalati oleh mu’aziyin sampai 17 kali kemudian dimakamkan komplek makam keluarga, sekitar 100 meter arah utara dari Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

Read More..

Hasan, Husein, dan Lelaki Tua

Posted by alhidayahkroya 0 komentar
Ada seorang lelaki tua sedang berwudhu, namun ia tak mengerjakannya dengan tata cara yang benar. Sementara, dua cucu Rasulullah saw., Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain yang masih anak-anak, memperhatikan orang tua itu berwudhu.
 
Tak ada alasan untuk ragu, karena adalah suatu kewajiban untuk mengajarkan permasalahan-permasalahan keagamaan dan membimbing yang tidak mengetahui. Jadi yang harus dilakukan adalah membuat orang tua itu mengerti cara berwudhu yang benar. Namun, jika mereka langsung mengoreksi caranya berwudhu begitu saja, mungkin orang tua itu akan jengkel dan bahkan menjadi kenangan yang buruk.
 
Selain itu, mungkin saja ia akan merasa dipermalukan dengan pemberitahuan ini, menjadi keras kepala dan tak pernah memperoleh buah ibadah. Setelah merenungkan cara terbaik untuk memberitahukan kekeliruan lelaki tua itu secara tidak langsung, keduanya mulai berdebat sedemikian rupa sehingga terdengar oleh orang tua itu.
 
Yang satu berkata, “Wudhuku lebih sempurna dibandingkan kamu.”, yang lain menjawab, “Akulah yang bisa berwudhu lebih baik darimu.” Anak-anak itu akhirnya sepakat untuk berwudhu di hadapan si lelaki tua dengan maksud menjadikannya sebagai penengah.
 
Sebagaimana telah disepakati, mereka berdua pun berwudhu secara benar dan sempurna di bawah pengawasannya. Lelaki tua itu menyadari bagaimana berwudhu yang benar. Secara naluriah ia tahu niat yang sebenarnya dari kedua bocah tersebut dan ia sangat terpengaruh dengan keramahan, kecerdasan, serta kebijakan alami mereka.
 
“Wudhu kalian sudah benar dan sempurna,” katanya, “Aku hanyalah seorang tua yang bodoh dan tidak tahu cara berwudhu dengan benar. Aku berterima kasih karena telah ditegur dengan cara seperti itu dan karena kepedulian yang kalian tunjukkan kepada kalangan tua.”


ref : http://gubuk-cahaya.blogspot.com/2011/11/hasan-husein-dan-lelaki-tua.html
Read More..

Total Tayangan Laman

Follow by Email

Google+ Followers