:: Selamat Datang di Website Resmi YAYASAN MIFTAHUL HUDA KROYA CILACAP, Pondok Pesantren Putri Al Hidayah :: ::

Habib Luthfi : "Contohlah Laut" !

Posted by alhidayahkroya Selasa, 23 Februari 2010 2 komentar
Manusia di dunia, kadang lupa diri ketika diberi kelebihan oleh Allah SWT. Sehingga kadang berbuat diluar nalar dan lebih membanggakan diri sendiri tanpa memperhatikan kekuatan yang lebih dasyat. Bahkan dibandingkan dengan alam sekitarnya pun, manusia kadang kalah.

Seperti yang dicontohkan laut. Bagaimanapun banyaknya anak sungai yang airnya mengalir kelaut namun air laut tak akan kehilangan asinnya. “Artinya kita selaku manusia meskipun banyak sekali ilmu pengetahuan maupu segala sesuatu yang dapat kita serap namun kita jangan sampai kehilangan jati diri,” pinta KH Habib Lutfi bin Ali Yahya pada saat menyampaikan tausiyah Maulid Nabi dan Haul Muassis ke-24 di Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes Senin (22/2).

Menurut Habib, bila para alim memiliki jatidiri, maka akan selalu berada di dijalan yang benar sesuai dengan ajaran Islam. “Era sekarang, pencemaran laut terus mendera, tapi tetap saja terasa asin,” ucapnya mantap.

Tak terkecuali manusia, setiap hari diterpa pencemaran. Baik itu berupa harta, tahta maupun wanita yang sangat menggiurkan. Tapi bila tetap berpegang pada jatidiri yang hakiki, tidak akan tergoyahkan.

Hadir pada acara tersebut wakil Bupati Brebes H. Agung Widiyantoro, SH MSi, Walikota tegal H. Ikmal Jaya, Kapolres dan wakapolres Brebes, Muspida dan muspika, kepala SKPD, ki dalang Entus dan ratusan Santri dan santriwati serta masyarakat umum lainnya.

Sebelumnya panitia juga mendaulat dalang kondang asal tegal Ki Entus Susmono untuk memberikan sedikit sambutan. Dengan gaya bahasanya yang blak-blakan, jamaah yang hadir dibuat ketawa lepas. Karuan saja, suasana mendadak ramai dan meriah.

Wakil Bupati Brebes H. Agung Widyantoro, SH MSi yang membacakan sambutan Bupati, mengucapkan terima kasih atas kedatangan habib lutfi di acara peringatan Maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan oleh pondok pesantren assalafiah desa Luwungragi.

Lebih lanjut dikatakan, pemerintah kabupaten Brebes setiap tahunya telah memperhatikan kebutuhan beragama mulai dari Pondok pesantren, madrasah dan lainya, hal tersebut dilakukan sebagai upaya agar pendidikan agama tetap ditanamkan sejak dini. Selanjutnya bupati berpesan kepada yang hadir pada acara tersebut agar dapat menjaga kerukunan antar sesama terutama kerukunan antar umat beragama, mengingat kabupaten brebes memiliki wilayah yang cukup luas.


Selasa, 23 Februari 2010
Brebes, NU Online
Read More..

Beasiswa Bagi Penghafal Al-Qur'an

Posted by alhidayahkroya Senin, 22 Februari 2010 3 komentar
Bagi yang ingin menempuh pendidikan tinggi dengan tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun alias gratis, mudah saja. Syaratnya, harus hafal Al-Qur’an.

Kabar gembira ini datang dari Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Prof Dr H Imam Suprayogo saat menghadiri Peringatan Maulid Nabi dan Haul ke-15 Pondok Pesantren Salaf Terpadu Ar-Risalah yang digelar di Aula Muktamar Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis, (18/2) malam.

“Mahasiswa yang hafal Al-Qur’an akan mendapatkan kuliah gratis hingga S3. Dan jika prestasinya bagus, akan dipromosikan menjadi dosen,” tutur pria kelahiran Trenggalek tersebut saat mengisi acara sambutan-sambutan.

Menurutnya, pendidikan yang baik itu jangan terlalu formal hingga pada akhirnya jadi formalitas semata. Karena itu, mahasiswa perlu didekatkan pada tiga hal; Al-Qur’an, masjid, dan para kiai atau ulama.

Imam terobsesi dengan empat mahasiswa UIN Malang dalam kurun empat kali wisuda. Wisuda pertama, ada mahasiswa jurusan fisika tapi hafal Al-Qur’an 30 juz. Wisuda kedua, mahasiswa yang nilainya semua di atas rata-rata, juga hafal 30 juz. Wisuda ketiga, mahasiswa jurusan matematika, hafal pula 30 juz. Keempat, mahasiswa jurusan ekonomi, juga hafal Al-Qur’an 30 juz. Bahkan, skripsinya memakai bahasa Arab.

Mereka yang hafal Al-Qur’an, terbukti lebih mudah untuk memahami dan mendalami materi pelajaran. Untuk menghafal rumus fisika, matematika, dan lain sebagainya, mereka tak akan mengalami hambatan karena sudah terbiasa dengan Al-Qur’an-nya,” ujar Imam dengan mantab.

Oleh karena itu, Imam bercita-cita mewujudkan sebuah lembaga pendidikan yang jajaran pengurusnya hafal Al-Qur’an atau hafidz-hafidzah.

“Jika para pengurus atau dosennya demikian, saya yakin lulusan UIN Malang akan dapat membawa perubahan besar bagi bangsa ini,” kata Prof. Imam dengan penuh optimisme. Namun ia menyadari, untuk menciptakan iklim seperti itu dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dalam observasinya ke lapangan, bakat-bakat seperti itu umumnya hanya muncul dari pendidikan pesantren.

Sementara itu taushiyah dalam acara Peringatan Maulid Nabi dan Haul ke-15 Pesantren Ar-Risalah disampaikan oleh Habib Tohir bin Abdullah Alkaff.

Pondok Pesantren Ar-Risalah sendiri merupakan salah satu pendidikan yang mampu melahirkan lulusan yang berkelas. Lembaga ini pernah mendapatkan sertifikat ISO pada tahun 2008.

Lulusan pesantren banyak diterima di perguruan tinggi seperti Unair, ITS, ITB, Unibraw, Universitas Islam Malaysia, Universitas Al-Ahgaf, Yaman, dan masih banyak lagi. Pada tahun ini, dua siswanya telah dikirimkan ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan di universitas sana. Siswa juga dibekali dengan tiga bahasa asing, bahasa Jepang, Inggris, dan Arab.
Read More..

Abu Bakar Ash Shiddiq

Posted by alhidayahkroya Minggu, 21 Februari 2010 0 komentar
Abu Bakar dilahirkan di Mekkah dari keturunan Bani Tamim (Attamimi), suku bangsa Quraish. Berdasarkan beberapa sejarawan Islam, ia adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang terpelajar serta dipercayai sebagai orang yang bisa menafsirkan mimpi.

Nama
Abu Bakar ayah dari Aisyah istri Nabi Muhammad SAW. Namanya yang sebenarnya adalah Abdul Ka'bah (artinya 'hamba Ka'bah'), yang kemudian diubah oleh Rasulullah menjadi Abdullah (artinya 'hamba Allah'. Nabi Muhammad SAW juga memberinya gelar Ash-Shiddiq (artinya 'yang berkata benar'), sehingga ia lebih dikenal dengan nama 'Abu Bakar Ash-Shiddiq.


Nama lengkapnya adalah 'Abd Allah ibn 'Uthman ibn Amir ibn Amru ibn Ka'ab ibn Sa'ad ibn Taim ibn Murrah ibn Ka'ab ibn Lu'ai ibn Ghalib ibn Fihr al-Quraishi at-Taimi'. Aisyah mendeskripsikan ayahnya : "Dia adalah seorang laki-laki dengan kulit putih, kurus, dengan janggut tipis, agak membungkuk, mata cekung dan menonjol dahi, dan telapak jarinya berbulu.

Era bersama Nabi
Ketika Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, Muhammad saw. pindah dan hidup dengannya. Pada saat itu Muhammad menjadi tetangga Abu Bakar. Sama seperti rumah Khadijah, rumahnya juga bertingkat dua dan mewah. Sejak saat itu mereka berkenalan satu sama lainnya. Mereka berdua berusia sama, pedagang dan ahli berdagang.

Memeluk Islam
Istrinya Qutaylah bint Abd-al-Uzza tidak menerima Islam sebagai agama sehingga Abu Bakr menceraikannya. Istrinya yang lain, Um Ruman, menjadi Muslimah. Juga semua anaknya kecuali 'Abd Rahman ibn Abi Bakr menerima Islam. Sehingga ia dan 'Abd Rahman berpisah.
Masuknya Abu Bakr berpegaruh besar dalam Islam. Teman - teman dekatnya diajak untuk masuk Islam. Mereka yang masuk Islam karena diajak oleh Abu Bakr adalah :
Utsman bin Affan (yang akan menjadi Khalifah ketiga)
Al-Zubayr
Talhah
Abdur Rahman bin Awf
Sa`d ibn Abi Waqqas
Umar ibn Masoan
Abu Ubaidah ibn al-Jarrah
Abdullah bin Abdul Asad
Abu Salma
Khalid ibn Sa`id
Abu Hudhaifah ibn al-Mughirah

Penyiksaan oleh Quraisy
Sebagaimana yang juga dialami oleh para pemeluk Islam pada masa awal. Ia juga mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh penduduk Mekkah yang mayoritas masih memeluk agama nenek moyang mereka. Namun, penyiksaan terparah dialami oleh mereka yang berasal dari golongan budak. Sementara para pemeluk non budak biasanya masih dilindungi oleh para keluarga dan sahabat mereka, para budak disiksa sekehendak tuannya. Hal ini mendorong Abu Bakar membebaskan para budak tersebut dengan membelinya dari tuannya kemudian memberinya kemerdekaan.
Beberapa budak yang ia bebaskan antara lain :
Bilal bin Rabbah
Abu Fakih
Ammar
Abu Fuhaira
Lubainah
An Nahdiah
Ummu Ubays
Zinnira
Ketika peristiwa Hijrah, saat Nabi Muhammad SAW pindah ke Madinah (622 M), Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang menemaninya. Abu Bakar juga terikat dengan Nabi Muhammad secara kekeluargaan. Anak perempuannya, Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad beberapa saat setelah Hijrah.

Menjadi Khalifah
Selama masa sakit Rasulullah SAW saat menjelang ajalnya, dikatakan bahwa Abu Bakar ditunjuk untuk menjadi imam shalat menggantikannya, banyak yang menganggap ini sebagai indikasi bahwa Abu Bakar akan menggantikan posisinya. Segera setelah kematiannya (632), dilakukan musyawarah di kalangan para pemuka kaum Anshar dan Muhajirin di Madinah, yang akhirnya menghasilkan penunjukan Abu Bakar sebagai pemimpin baru umat Islam atau khalifah Islam.
Apa yang terjadi saat musyawarah tersebut menjadi sumber perdebatan. Penunjukan Abu Bakar sebagai khalifah adalah subyek yang sangat kontroversial dan menjadi sumber perpecahan pertama dalam Islam, dimana umat Islam terpecah menjadi kaum Sunni dan Syi'ah. Di satu sisi kaum Syi'ah percaya bahwa seharusnya Ali bin Abi Thalib (menantu nabi Muhammad) yang menjadi pemimpin dan dipercayai ini adalah keputusan Rasulullah SAW sendiri sementara kaum sunni berpendapat bahwa Rasulullah SAW menolak untuk menunjuk penggantinya. Kaum sunni berargumen bahwa Rasulullah mengedepankan musyawarah untuk penunjukan pemimpin.sementara muslim syi'ah berpendapat kalau Rasulullah saw dalam hal-hal terkecil seperti sebelum dan sesudah makan, minum, tidur, dll, tidak pernah meninggal umatnya tanpa hidayah dan bimbingan apalagi masalah kepemimpinan umat terahir.dan juga banyak hadits di Sunni maupun Syi'ah tentang siapa khalifah sepeninggal Rasulullah saw, serta jumlah pemimpin islam yang dua belas. Terlepas dari kontroversi dan kebenaran pendapat masing-masing kaum tersebut, Ali sendiri secara formal menyatakan kesetiaannya (berbai'at) kepada Abu Bakar dan dua khalifah setelahnya (Umar bin Khattab dan Usman bin Affan). Kaum sunni menggambarkan pernyataan ini sebagai pernyataan yang antusias dan Ali menjadi pendukung setia Abu Bakar dan Umar. Sementara kaum syi'ah menggambarkan bahwa Ali melakukan baiat tersebut secara pro forma, mengingat beliau berbaiat setelah sepeninggal Fatimah istri beliau yang berbulan bulan lamanya dan setelah itu ia menunjukkan protes dengan menutup diri dari kehidupan publik.

Perang Ridda
Segera setelah suksesi Abu Bakar, beberapa masalah yang mengancam persatuan dan stabilitas komunitas dan negara Islam saat itu muncul. Beberapa suku Arab yang berasal dari Hijaz dan Nejed membangkang kepada khalifah baru dan sistem yang ada. Beberapa diantaranya menolak membayar zakat walaupun tidak menolak agama Islam secara utuh. Beberapa yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lamanya yakni penyembahan berhala. Suku-suku tersebut mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen dengan Nabi Muhammad SAW dan dengan kematiannya komitmennya tidak berlaku lagi. Berdasarkan hal ini Abu Bakar menyatakan perang terhadap mereka yang dikenal dengan nama perang Ridda. Dalam perang Ridda peperangan terbesar adalah memerangi Ibnu Habib al-Hanafi  yang lebih dikenal dengan nama Musailamah Al-Kazab (Musailamah si pembohong), yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad SAW. Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid bin Walid.

Ekspedisi ke utara
Setelah menstabilkan keadaan internal dan secara penuh menguasai Arab, Abu Bakar memerintahkan para jenderal Islam melawan kekaisaran Bizantium dan Kekaisaran Sassanid. Khalid bin Walid menaklukkan Irak dengan mudah sementara ekspedisi ke Suriah juga meraih sukses.

Qur'an
Abu Bakar juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis Al Qur'an. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah dalam perang Ridda, banyak penghafal Al Qur'an yang ikut tewas dalam pertempuran. Abu Bakar lantas meminta Umar bin Khattab untuk mengumpulkan koleksi dari Al Qur'an. Setelah lengkap koleksi ini, yang dikumpulkan dari para penghafal Al-Quran dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya, oleh sebuah tim yang diketuai oleh shahabat Zaid bin Tsabit, kemudian disimpan oleh Hafsah, anak dari Umar dan juga istri dari Nabi Muhammad SAW. Kemudian pada masa pemerintahan Usman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks al Qur'an hingga yang dikenal hingga saat ini.

Kematian
Abu Bakar meninggal pada tanggal 23 Agustus 634 di Madinah pada usia 63 tahun. Abu Bakar dimakamkan di rumah Aishah di dekat masjid Nabawi, di samping makam Rasulullah SAW
Read More..

Utsman bin 'Affan r.a

Posted by alhidayahkroya Senin, 15 Februari 2010 0 komentar
Utsman bin Affan r.a adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk Khulafaur Rasyidin yang ke-3. Utsman adalah seorang yang saudagar yang kaya tetapi sangatlah dermawan. Ia juga berjasa dalam hal membukukan Al-Qur'an.

Ia adalah khalifah ketiga yang memerintah dari tahun 644 (umur 69–70 tahun) hingga 656 (selama 11–12 tahun). Selain itu sahabat nabi yang satu ini memiliki sifat yang sangat pemalu.

Utsman bin Affan adalah sahabat nabi dan juga khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin. ia dikenal sebagai pedagang kaya raya dan ekonom yang handal namun sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam.

Ia mendapat julukan Dzunnurain yang berarti yang memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah Saw yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum.

Usman bin Affan lahir pada 574 Masehi dari golongan Bani Umayyah. Nama ibu ia adalah Arwa binti Kuriz bin Rabiah. ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan Assabiqunal Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). Rasulullah Saw sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati diantara kaum muslimin. 

Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?”

Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah Saw ke Habbasyiah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habbasyiah hingga tekanan dari kaum Quraisy reda. Tak lama tinggal di Mekah, Utsman mengikuti Nabi Muhammad Saw untuk hijrah ke Madinah. Pada peristiwa Hudaibiyah, Utsman dikirim oleh Rasullah untuk menemui Abu Sofyan di Mekkah. Utsman diperintahkan Nabi untuk menegaskan bahwa rombongan dari Madinah hanya akan beribadah di Ka’bah, lalu segera kembali ke Madinah, bukan untuk memerangi penduduk Mekkah.

Pada saat Perang Dzatirriqa dan Perang Ghatfahan berkecamuk, dimana Rasullullah Saw memimpin perang, Utsman dipercaya menjabat walikota Madinah. Saat Perang Tabuk, Utsman mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya perang tersebut. Utsman bin Affan juga menunjukkan kedermawanannya tatkala membeli mata air yang bernama Rumah dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air itu ia wakafkan untuk kepentingan rakyat umum.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

Setelah wafatnya Umar bin Khatab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk memilik khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdurrahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. 

Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah Utsman yang berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga dan yang tertua, serta yang pertama dipilih dari beberapa calon. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H. Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.

Ia adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). ia mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya; membuat bangunan khusus untuk mahkamah dan mengadili perkara yang sebelumnya dilakukan di masjid; membangun pertanian, menaklukan Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Palestina, Siprus, Rodhes, dan juga membentuk angkatan laut yang kuat. Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf.

Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah. Khalifah Utsman kemudian dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Meski Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. 

Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada bulan Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah Saw perihal kematian Utsman yang syahid nantinya. ia dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.
Read More..

Umar bin Khottob r.a

Posted by alhidayahkroya 0 komentar

Sayyidina Umar Ibn al-Khattab adalah khalifah kedua, dan mungkin terbesar dari semua khalifah Islam. Dia sejaman namun lebih berusia muda ketimbang Nabi Muhammad. Dan seperti juga Nabi Muhammad, dia kelahiran Mekkah. Tahun kelahirannya tidak diketahui, tetapi menurut taksiran tahun-586.

Asal-muasalnya `Umar Ibn al-Khattab merupakan musuh yang paling ganas dan beringas, menentang Nabi Muhammad dan Agama Islam habis-habisan. Tetapi, mendadak dia memeluk agama baru itu dan berbalik menjadi pendukung gigih. `Umar Ibn al-Khattab selanjutnya menjadi penasihat terdekat Nabi Muhammad dan begitulah dilakukannya sepanjang umur Nabi Muhammad.

Tahun 632 Nabi Muhammad wafat, tanpa menunjuk penggantinya. Umar dengan cepat mendukung Abu Bakr sebagai pengganti, seorang kawan dekat Nabi dan juga mertua beliau. Langkah ini mencegah ada kekuatan dan memungkinkan Abu Bakr secara umum diakui sebagai khalifah pertama, semacam "pengganti" Nabi Muhammad. 

Abu Bakar merupakan pemimpin yang berhasil tetapi beliau wafat sesudah jadi khalifah hanya selama dua tahun. Tetapi, Abu Bakr menunjuk `Umar jadi khalifah tahun 634 dan memegang kekuasaan hingga tahun 644 tatkala dia terbunuh di Madinah oleh perbuatan seorang budak Persia. Di atas tempat tidur menjelang wafatnya, `Umar menunjuk sebuah panita terdiri dari enam orang untuk memilih penggantinya. Dengan demikian lagi-lagi kesempatan adu kekuatan untuk kekuasaan terjauh. Panitia enam orang itu menunjuk `Uthman selaku khalifah ke-3 yang memerintah tahun 644-656.

Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun `Umar itulah penaklukan-penaklukan penting dilakukan orang Arab. Tak lama sesudah `Umar pegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Arab menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Arab berhasil memukul habis kekuatan Byzantium.

Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Arab telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Arab menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.

Penyerangan Arab terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum `Umar naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Arab terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan `Umar. Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Arab. Dan bukan cuma itu: pasukan Arab bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642) mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. 

Menjelang wafatnya `Umar di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala `Umar wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.

Sama pentingnya dengan makna penaklukan-penaklukan yang dilakukan `Umar adalah kepermanenan dan kemantapan pemerintahannya. Iran, kendati penduduknya masuk Islam, berbarengan dengan itu mereka memperoleh kemerdekaannya dari pemerintahan Arab. Tetapi Suriah, Irak dan Mesir tidak pernah peroleh hal serupa. Negeri-negeri itu seluruhnya di-Arabkan hingga saat kini.

`Umar sudah barangtentu punya rencana apa yang harus dilakukannya terhadap daerah-daerah yang sudah ditaklukkan oleh pasukan Arab. Dia memutuskan, orang Arab punya hak-hak istimewa dalam segi militer di daerah-daerah taklukan, mereka harus berdiam di kota-kota tertentu yang ditentukan untuk itu, terpisah dari penduduk setempat. 

Penduduk setempat harus bayar pajak kepada penakluk Muslimin (umumnya Arab), tetapi mereka dibiarkan hidup dengan aman dan tenteram. Khususnya, mereka tidak dipaksa memeluk Agama Islam. Dari hal itu sudahlah jelas bahwa penaklukan Arab lebih bersifat perang penaklukan nasionalis daripada suatu perang suci meskipun aspek agama bukannya tidak memainkan peranan.

Keberhasilan `Umar betul-betul mengesankan. Sesudah Nabi Muhammad, dia merupakan tokoh utama dalam hal penyerbuan oleh Islam. Tanpa penaklukan-penaklukannya yang secepat kilat, diragukan apakah Islam bisa tersebar luas sebagaimana dapat disaksikan sekarang ini. Lebih-lebih, kebanyakan daerah yang ditaklukkan dibawah pemerintahannya tetap menjadi Arab hingga kini. Jelas, tentu saja, Nabi Muhammadlah penggerak utamanya jika dia harus menerima penghargaan terhadap perkembangan ini. 

Tetapi, akan merupakan kekeliruan berat apabila kita mengecilkan saham peranan `Umar. Penaklukan-penaklukan yang dilakukannya bukanlah akibat otomatis dari inspirasi yang diberikan Nabi Muhammad. Perluasan mungkin saja bisa terjadi, tetapi tidaklah akan sampai sebesar itu kalau saja tanpa kepemimpinan `Umar yang brilian.

Memang akan merupakan kejutan –buat orang Barat yang tidak begitu mengenal `Umar– membaca penempatan orang ini lebih tinggi dari pada orang-orang kenamaan seperti Charlemagne atau Julius Caesar dalam urutan daftar buku ini. Soalnya, penaklukan oleh bangsa Arab di bawah pimpinan `Umar lebih luas daerahnya dan lebih tahan lama dan lebih bermakna ketimbang apa yang diperbuat oleh Charlemagne maupun Julius Caesar.

Ref : Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Michael H. Hart
sumber: Klik
Read More..

Ali bin Abi Thalib r.a

Posted by alhidayahkroya Rabu, 10 Februari 2010 3 komentar

Nama : Ali bin Abi Thalib ra
Gelar : Amirul Mukminin
Julukan: Abu Al-Hasan, Abu Turab
Ayah : Abu Thalib (Paman Rasululullah s.a.w)
Ibu : Fatimah binti Asad
Tempat/Tarikh Lahir: Mekkah, Jum'at 13 Rajab
Hari/Tarikh Wafat: Malam Jum' at, 21 Ramadhan 40 H.
Umur : 63 Tahun
Sebab Kematian: Ditikam oleh Abdurrahman ibnu Muljam semasa solat subuh
Makam : Najaf Al-Syarif

Jumlah Anak: 36 Orang, 18 laki-laki dan 18 perempuan
Anak laki-laki:
1. Hasan Mujtaba, 2. Husein, 3. Muhammad Hanafiah, 4. Abbas al-Akbar, yang dijuluki Abu Fadl, 5. Abdullah al-Akbar, 6. Ja’far al-Akbar, 7. Utsman al- Akbar, 8. Muhammad al-Ashghar, 9. Abdullah al-Ashghar, 10. Abdullah, yang dijuluki Abu Ali, 11. ‘Aun, 12. Yahya, 13. Muhammad al Ausath, 14. Utsman al Ashghar 15.Abbas al-Ashghar, 16. Ja’far al-Ashghar, 17. Umar al-Ashghar, 18. Umar al-Akbar

Anak Perempuan: 1. Zainab al-Kubra, 2. Zainab al-Sughra, 3.Ummu al-Hasan, 4. Ramlah al-Kubra, 4. Ramlah al-Sughra, 5. Ummu al-Hasan, 6. Nafisah, 7. Ruqoiyah al-Sughra, 8. Ruqoiyah al-Kubra, 9. Maimunah, 10. Zainab al-Sughra, 11. Ummu Hani, 12. Fathimah al-Sughra, 13.Umamah, 14.Khodijah al-Sughra, 15 Ummu Kaltsum, 16. Ummu Salamah, 17. Hamamah, 18. Ummu Kiram

Riwayat Hidup
Imam Ali bin Abi Thalib r.a. adalah sepupu Rasulullah s.a.w. Dikisahkan bahwa pada waktu ibunya Fatimah binti Asad, dalam keadaan hamil, beliau masih ikut bertawaf disekitar Ka'bah. Kerana keletihan yang dialaminya lalu si ibu tadi duduk di depan pintu Ka'bah seraya memohon kepada Tuhannya agar memberinya kekuatan. Tiba-tiba tembok Ka'bah tersebut bergetar dan terbukalah dindingnya. Seketika itu pula Fatimah binti Asad masuk ke dalamnya dan terlahirlah di sana seorang bayi mungil yang kelak kemudian menjadi manusia besar, Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Pembicaraan tentang Imam Ali bin Abi Thalib tidak dapat dipisahkan dengan Rasulullah s.a.w. Sebab sejak kecil beliau telah berada dalam didikan Rasulullah s.a.w, sebagaimana dikatakannya sendiri: "Nabi membesarkan aku dengan suapannya sendiri. Aku menyertai beliau kemanapun beliau pergi, seperti anak unta yang mengikuti induknya. Tiap-tiap hari aku dapatkan sesuatu hal yang baru dari peribadinya yang mulia dan aku menerima serta mengikutinya sebagai suatu perintah".

Setelah Rasulullah s.a.w mengumumkan tentang kenabiannya, beliau menerima dan mengimaninya dan termasuk orang yang masuk islam pertama kali dari kaum laki-laki. Apapun yang dikerjakan dan diajarkan Rasulullah kepadanya, selalu diamalkan dan ditirunya. Sehingga beliau tidak pernah terkotori oleh kesyirikan atau tercemari oleh peribadi, hina dan jahat dan tidak tenodai oleh kemaksiatan. Kepribadian beliau telah menyatu dengan Rasululullah s.a.w, baik dalam karakternya, pengetahuannya, pengorbanan diri, kesabaran, keberanian, kebaikan, kemurahan hati, kefasihan dalam berbicara dan berpidato.

Sejak masa kecilnya beliau telah menolong Rasulullah s.a.w dan terpaksa harus menggunakan kepalan tangannya dalam mengusir anak-anak kecil serta para gelandangan yang diperintah kaum kafir Qurays untuk mengganggu dan melempari batu kepada diri Rasulullah s.a.w.

Keberaniannya tidak tertandingi, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w: "Tiada pemuda sehebat Ali". Dalam bidang keilmuan, Rasul menamakannya sebagai pintu ilmu. Bila ingin berbicara tentang kesalehan dan kesetiaannya, maka semaklah sabda Rasulullah s.a.w: "Jika kalian ingin tahu ilmunya Adam, kesalehan Nuh, kesetiaan lbrahim, keterpesonaan Musa, pelayanan dan kepantangan Isa, maka lihatlah kecemerlangan wajah Ali". Beliau merupakan orang yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan Nabi s.a.w sebab, beliau bukan hanya sepupu nabi, tapi sekaligus sebagai anak asuhnya dan suami dari putrinya serta sebagai penerus kepemimpinan ummat sepeninggalnya s.a.w.

Sejarah juga telah menjadi saksi nyata atas keberaniannya. Di setiap peperangan, beliau selalu saja menjadi orang yang terkemuka. Di perang Badar, hampir separuh dan jumlah musuh yang mati, tewas di hujung pedang Imam Ali r.a. Di perang Uhud, yang mana musuh Islam lagi-lagi dipimpin oleh Abu Sofyan dan keluarga Umayyah yang sangat memusuhi Nabi s.a.w, Imam Ali r.a kembali memerankan perang yang sangat penting yaitu ketika sebagian sahabat tidak lagi mendengar wasiat Rasulullah agar tidak turun dari atas gunung, namun mereka tetap turun sehingga orang kafir Qurays mengambil posisi mereka, Imam Ali bin Abi Thalib r.a. segera datang untuk menyelamatkan diri nabi dan sekaligus menghalau serangan itu.

Perang Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Imam Ali bin Abi Thalib r.a. ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.

Demikian pula halnya dengan perang Khaibar, di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi s.a.w ber-sabda: "Esok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengurniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya".

Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, ternyata Imam Ali bin Abi Thalib r.a. yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya hingga terbelah menjadi dua bagian.

Begitulah kegagahan yang ditampakkan oleh Imam Ali dalam menghadapi musuh islam serta dalam membela Allah dan Rasul-Nya. Tidak syak lagi bahwa seluruh kebidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. dipersembahkan untuk Rasul demi keberhasilan misi Allah. Kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah benar-benar terbukti lewat perjuangannya. Penderitaan dan kesedihan dalam medan perjuangan mewarnai kehidupannya. Namun, penderitaan dan kesedihan yang paling dirasakan adalah saat ditinggalkan Rasulullah s.a.w. Tidak cukup itu, 75 hari kemudian istrinya, Fatimah Zahra, juga meninggal dunia.

Kepergian Rasululullah s.a.w telah membawa angin lain dalam kehidupan Imam Ali r.a. Terjadinya pertemuan Saqifah yang menghasilkan pemilihan khalifah pertama, baru didengarnya setelah pulang dari kuburan Rasulullah s.a.w. Sebab, pemilihan khalifah itu menurut sejarah memang terjadi saat Rasulullah belum di makamkan. Pada tahun ke-13 H, khalifah pertama, Abu Bakar as-Shiddiq, meninggal dunia dan menunjuk khalifah ke-2, Umar bin Khathab sebagai penggantinya. Sepuluh tahun lamanya khalifah ke-2 memimpin dan pada tahun ke-23 H, beliau juga wafat. Namun, sebelum wafatnya, khalifah pertama telah menunjuk 6 orang calon pengganti dan Imam Ali r.a. termasuk salah seorang dari mereka. Kemudian terpilihlah khalifah Utsman bin Affan.

Pada tahun 35 H, khalifah Utsman terbunuh dan kaum muslimin secara demokrasi memilih serta menunjuk Imam Ali sebagai khalifah dan pengganti Rasulullah s.a.w dan sejak itu beliau memimpin negara Islam tersebut. Selama masa kekhalifahannya yang hampir 4 tahun 9 bulan, Ali mengikuti cara Nabi dan mulai menyusun sistem yang islami dengan membentuk gerakan spiritual dan pembaharuan.

Dalam merealisasikan usahanya, beliau menghadapi banyak tentangan dan peperangan, sebab, tidak dapat dimungkiri bahwa gerakan pembaharuan yang dicanangkannya dapat meroboh dan menghancurkan keuntungan-keuntungan pribadi dan beberapa kelompok yang merasa dirugikan. Akhirnya, terjadilah perang Jamal dekat Bashrah antara beliau dengan Talhah dan Zubair yang didukung oleh Mua'wiyah, yang mana di dalamnya Aisyah "Ummul Mukminin" ikut keluar untuk memerangi Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Peperangan pun tak dapat dihindari, dan akhirnya pasukan Imam Ali r.a berhasil memenangkan peperangan itu sementara Aisyah "Ummul Mu'rninin" dipulangkan secara terhormat kerumahnya. Perang Jamal adalah perang saudara pertama dalam sejarah islam kerana konflik yang dihadapi oleh keluarga Nabi sendiri.

Kemudian terjadi "perang Siffin" yaitu peperangan antara beliau r.a. melawan kelompok Mu'awiyah, sebagai kelompok oposisi untuk kepentingan pribadi yang 'merampas' negara yang sah. Peperangan itu terjadi di perbatasan Iraq dan Syiria dan berlangsung selama setengah tahun. Beliau juga memerangi Khawarij (orang yang keluar dan lingkup Islam) di Nahrawan, yang dikenal dengan nama "perang Nahrawan". Oleh kerana itu, hampir sebagian besar hari-hari pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib r.a digunakan untuk peperangan interen melawan pihak- pihak oposisi yang sangat merugikan negara Islam.

Akhirnya, menjelang subuh, 19 Ramadhan 40 H, ketika sedang solat di masjid Kufah, kepala beliau ditebas dengan pedang beracun oleh Abdurrahman bin Muljam. Menjelang wafatnya, pria sejati ini masih sempat memberi makan kepada pembunuhnya. Singa Allah, yang dilahirkan di rumah Allah "Ka'bah" dan dibunuh di rumah Allah "Mesjid Kufah", yang mempunyai hati paling berani, yang selalu berada dalam didikan Rasulullah s.a.w sejak kecilnya serta selalu berjalan dalam ketaatan pada Allah hingga hari wafatnya, kini telah mengakhiri kehidupan dan pengabdiannya untuk Islam.

Beliau memang telah tiada namun itu tidak berarti seruannya telah berakhir, Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyedarinya." (Q.S:2:154)

Semoga Allah memasukkan beliau ke dalam golongan yang soleh bersama-sama penghuni syurga-Nya. Amin....
Read More..

Jejak Kedermawanan Rasulullah

Posted by alhidayahkroya Senin, 08 Februari 2010 3 komentar

Sayyidina Umar bin Khattab bercerita, suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi, Rasulullah juga memberinya. 

Keesokan harinya, datang lagi dan kembali meminta, Rasulullah pun memberinya. Keesokan harinya, ia datang kembali untuk meminta-minta, Rasulullah lalu bersabda, “Aku tidak mempunyai apa-apa saat ini. Tapi, ambillah yang kau mau dan jadikan sebagai utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku yang akan membayarnya.”

Umar lalu berkata, “Wahai Rasulullah janganlah memberi diluar batas kemampuanmu.” Rasulullah tidak menyukai perkataan Umar tadi. Tiba-tiba, datang seorang laki-laki dari Anshar sambil berkata, “Ya Rasulullah, jangan takut, terus saja berinfak. Jangan khawatir dengan kemiskinan.” Mendengar ucapan laki-laki tadi, Rasulullah tersenyum, lalu beliau berkata kepada Umar, “Ucapan itulah yang diperintahkan oleh Allah kepadaku.” (HR Turmudzi).

Jubair bin Muth’im bertutur, ketika ia bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba orang-orang mencegat beliau dan meminta dengan setengah memaksa sampai-sampai beliau disudutkan ke sebuah pohon berduri.

Kemudian salah seorang dari mereka mengambil mantelnya. Rasulullah berhenti sejenak dan berseru, ”Berikan mantelku itu! Itu untuk menutup auratku. Seandainya aku mempunyai mantel banyak (lebih dari satu), tentu akan kubagikan pada kalian (HR. Bukhari)

Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW bercerita, suatu hari Rasulullah masuk ke rumahku dengan muka pucat. Aku khawatir beliau sedang sakit. “Ya Rasulullah, mengapa wajahmu pucat begini?” tanyaku.

Rasulullah menjawab, ”Aku pucat begini bukan karena sakit, melainkan karena aku ingat uang tujuh dinar yang kita dapat kemarin sampai sore ini masih berada di bawah kasur dan kita belum menginfakkannya.” (HR Al-Haitsami dan hadistnya sahih).

Aisyah berkata, suatu hari, ketika sakit, Rasulullah SAW menyuruhku bersedekah dengan uang tujuh dinar yang disimpannya di rumah. Setelah menyuruhku bersedekah, beliau lalu pingsan. Ketika sudah siuman, Rasulullah bertanya kembali: “Uang itu sudah kau sedekahkan?” “Belum, karena aku kemarin sangat sibuk,” jawabku Rasulullah bersabda, “Mengapa bisa begitu, ambil uang itu!”.

Begitu uang itu sudah di hadapannya, Rasulullah lalu bersabda, “Bagaimana menurutmu seandainya aku tiba-tiba meninggal, sementara aku mempunyai uang yang belum kusedekahkan? Uang ini tidak akan menyelamatkan Muhammad seandainya ia meninggal sekarang, sementara ia mempunyai uang yang belum disedekahkan,”. (HR Ahmad).

Sahl bin Sa’ad bertutur, suatu hari datang seorang perempuan menghadiahkan kepada Nabi Saw sepotong syamlah yang ujungnya ditenun (syamlah adalah baju lapang yang menutup seluruh badan). Perempuan itu berkata, “Ya Rasulullah, akulah yang menenun syamlah ini dan aku hendak menghadiahkannya kepada Engkau.” Rasulullah pun sangat menyukainya. Tanpa banyak bicara, beliau langsung mengambil dan memakainya dengan sangat gembira dan berterima kasih kepada wanita itu. Rasulullah betul-betul sangat membutuhkan dan menyukai syamlah tersebut.

Tidak lama setelah wanita itu pergi, tiba-tiba datang seorang laki-laki meminta syamlah tersebut. Rasulullah pun memberikannya. Para sahabat yang lain lalu mengecam laki-laki tersebut. Mereka berkata, “Hai Fulan, Rasulullah sangat menyukai syamlah tersebut, mengapa kau memintanya? Kau kan tahu Rasulullah tidak pernah tidak memberi kalau diminta?” Laki-laki itu menjawab, “Aku memintanya bukan untuk dipakai sebagai baju, melainkan untuk kain kafanku nanti kalau aku meninggal”. Tidak lama kemudian, laki-laki itu meninggal dan syamlah tersebut menjadi kain kafannya. (HR Bukhari).

Beberapa kisah diatas hanyalah sebutir jejak kedermawanan Nabi Muhammad SAW. Kisah-kisah lainnya bagaikan gunung pasir tertinggi yang takkan pernah sanggup diimbangi oleh siapapun, termasuk para sahabat-sahabat terdekatnya di masa beliau masih hidup. Sahabat-sahabat Rasulullah hanya bisa meniru kedermawanan yang diajarkan Baginda Rasul itu, yang kemudian menambah panjang jejak sejarah kedermawanan yang dicontohkan Nabi dan para sahabatnya.

Lihatlah Thalhah bin Ubaidillah, seorang sahabat yang kaya raya namun pemurah dan dermawan. “Sungai yang airnya mengalir terus menerus mengairi dataran dan lembah” adalah lukisan tentang kedermawanan seorang Thalhah. Isterinya bernama Su’da binti Auf. Pada suatu hari isterinya melihat Thalhah sedang murung dan duduk termenung sedih. Melihat keadaan suaminya, sang isteri segera menanyakan penyebab kesedihannya dan Thalhah mejawab, “Uang yang ada di tanganku sekarang ini begitu banyak sehingga memusingkanku. Apa yang harus kulakukan ?”

Maka istrinya berkata, “Uang yang ada di tanganmu itu bagi-bagikanlah kepada fakir miskin.” Maka dibagi-baginyalah seluruh uang yang ada di tangan Thalhah tanpa meninggalkan sepeserpun.

Assaib bin Zaid berkata tentang Thalhah, “Aku berkawan dengan Thalhah baik dalam perjalanan maupun sewaktu bermukim. Aku melihat tidak ada seorangpun yang lebih dermawan dari dia terhadap kaum muslimin. Ia mendermakan uang, sandang dan pangannya.”

Jaabir bin Abdullah bertutur, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih dermawan dari Thalhah walaupun tanpa diminta.” Oleh karena itu patutlah jika dia dijuluki “Thalhah si dermawan”, “Thalhah si pengalir harta”, “Thalhah kebaikan dan kebajikan”.

Sahabat lain yang mengukir jejak indah kedermawanan mencontoh Nabi adalah Tsabit bin Dahdah yang memiliki kebun yang bagus, berisi 600 batang kurma kualitas terbaik. Begitu turun firman Allah, “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (pembayaran) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (Al-Hadid: 11). Dia bergegas mendatangi Rasulullah untuk bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Allah ingin meminjam dari hambanya?

“Benar,” jawab Rasulullah.

Spontan Tsabit bin Dahdah mengacungkan tangannya seraya berkata, “Ulurkanlah tangan Anda, wahai Rasulullah.”

Rasulullah mengulurkan tangannya, dan langsung disambut oleh Tsabit bin Dahdah sambil berkata, “Aku menjadikan Anda sebagai saksi bahwa kupinjamkan kebunku kepada Allah.” Tsabit sangat gembira dengan keputusannya itu. Dalam perjalanan pulang dia mampir ke kebunnya. Dilihatnya isteri dan anak-anaknya sedang bersantai di bawah pepohonan yang sarat dengan buah.

Dari pintu kebun, Dipanggillah sang isteri, “Hai Ummu Dahdah! Ummu Dahdah! Cepat keluar dari kebun ini, Aku sudah meminjamkan kebun ini kepada Allah!” Isterinya menyambut dengan suka cita, “Engkau tidak rugi, suamiku, engkau beruntung, engkau sungguh beruntung!” Segera dikeluarkannya kurma yang ada di mulut anak-anaknya seraya berkata, “Ayahmu sudah meminjamkan kebun ini kepada Allah.”

Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Rasulullah bersabda, “Berapa banyak pohon sarat buah yang kulihat di surga atas nama Abu Dahdah.” Artinya, Allah memberi Tsabit bin Dahdah pohon-pohon yang berbuah lebat di surga sebagai ganti atas pemberiannya kepada-Nya di dunia.

Indah nian jejak-jejak kedermawanan Nabi Muhammad SAW, lebih indah lagi apa-apa yang dijanjikan Allah atas apa yang diberikan di jalan-Nya. Karenanya, seluruh sahabat pada masa itu berlomba-lomba mengikuti jejak Nabi dalam segala hal, termasuk tentang kedermawanan. Semoga, jejak kedermawanan itu terus terukir pada ummat Muhammad hingga kini selama kita masih terus meleburkan diri pada rantai jejak indah itu, dan mengajarkannya kepada anak-anak dan penerus kehidupan ini.
Read More..

Pengemis Buta dan Rasulullah SAW

Posted by alhidayahkroya 1 komentar

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?

Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.
Apakah Itu?, tanya Abubakar RA.
Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA.


Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu?
Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).
Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.

Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia….

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW?
Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.
Read More..

Shalat Jama'ah

Posted by alhidayahkroya 2 komentar
1. Menurut qaul ashah, shalat berjama’ah untuk shalat fardlu selain Sholat Jum’at adalah fardlu kifayah bagi orang laki-laki yang sudah baligh dan merdeka dan bagi orang yang bepergian. Mendirikan shalat jama’ah harus kelihatan syi’arnya.
Peringatan:
a. Shalat-shalat sunah yang sunah dikerjakan dengan berjama’ah, jama’ahnya juga sunah. Demikian juga berjama’ah untuk shalat qadla kalau bentuknya sama.

2. Jama’ah bagi orang laki-laki sekalipun jumlahnya sedikit di masjid lebih utama dari pada shalat jama’ah di selain masjid.

3. Shalat berjama’ah sekalipun tidak bisa khusyu’ masih lebih utama dari pada shalat sendirian dengan khusyu’.

4. Shalat berjama’ah bersama orang banyak lebih utama dari pada bersama orang yang sedikit kecuali apabila imam jama’ah yang banyak melakukan bid’ah atau tidak meyakini kewajibannya sebagian rukun atau syarat shalat.
Demikian juga apabila mengikuti jama’ah yang banyak akan menyebabkan kosongnya masjid.

5. Makruh niat mufaraqah (memisahkan diri) dari jama’ah kalau tanpa udzur dan bisa menghilangkan Fadlilah jama’ah.
Hanya saja wajib segera niat mufaraqah kalau mengetahui imamnya kedatangan perkara yang membatalkan shalat.

6. Fadlilah shalat jama’ah selain Jum’at dapat dihasilkan kalau ma’mum takbiratul ihram dengan sempurna sebelum imam salam.
ingat !
a. Bagi orang yang ketinggalan ruku’ pada raka’at terakhir imam atau sebagian shalatnya, maka sunah membuat jama’ah sendiri sekiranya tidak kehilangan fadlilahnya awal waktu atau waktu ikhtiar.

7. Fadlilah takbirotul ihrom dapat dihasilkan kalau ma’mum mendapatkan takbirotul ihrom imamnya kemudian langsung takbirotul ihrom.
Tanbih !
a. Sunah berjalan biasa dan khusyu’ sekalipun hawatir tidak mendapatkan fadlilah takbirotul ihrom atau jama’ah.
b. Bagi imam atau orang yang shalat sendirian dalam ruku’ atau tasyahud akhir, sunah menunggu tidak terlalu lama orang yang hadir ke tempat jama’ah dengan maksud untuk bermakmum.
c. Kalau iqomah sudah dikumandangkan makruh shalat sunah. Adapun bila sedang shalat sunah kemudian iqomah dikumandangkan supaya shalat sunah disempurnakan sekira tidak ketinggalan jama’ah.

8. Makmum masbuq (makmum yang tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk membaca fatihah bersama imam. Sebaliknya makmum muwafiq) ketika mendapatkan imam dalam ruku’, roka’atnya dianggap kalau bisa sempurna takbirotul ihromnya serta nyata-nyata bisa mengikuti ruku’nya imam dengan thuma’ninah.

Tanbih !
a. Ma’mum masbuk sunah berdiri untuk menyempurnakan shalat ketika imam sudah salam yang kedua. Haram dan batal shalatnya jika setelah imam salam, makmum tetap duduk melebihi waktu yang cukup untuk membaca aqollut tasyahhud (paling sedikitnya tasyahhud) padahal ketika tasyahhud karena mengikuti imam bagi makmum bukan waktunya.

b. Demikian juga batal shalat makmum kalau ia sengaja berdiri tanpa niat mufaroqoh sebelum imam salam. Akan tetapi jika berdirinya karena lupa atau tidak mengerti, ia wajib kembali duduk dan apa yang terlanjur dikerjakan tidak dianggap.

9. Udzur-udzur yang membolehkan meninggalkan jama’ah dan Jum’ah dan tidak menghilangkan fadlilahnya kalau bermaksud mengikuti jama’ah, udzur-udzur syar'i tersebut adalah :
a. Hujan yang membasahi pakaian
b. Angin kencang di malam hari
c. Becek
d. Gempa
e. Samun
f. Panas yang menyengat di waktu dhuhur
g. Cuaca dingin atau gelap
h. Sakit yang memberatkan
i. Hawatir keselamatan badan atau harta atau rusaknya masakan yang masih berada di atas api
j. Takut ditahan orang yang memberi piutang sedangkan ia belum mempu melunasi
k. Menahan hadats
l. Sangat lapar atau haus
m. Sangat ingin makan makanan yang halal yang ada di tempat shalat
n. Tidak memiliki pakaian yang layak
o. Mempersiapkan diri untuk bepergian bersama teman yang sudah berangkat
p. Makan makanan yang berbau tidak sedap yang sulit dihilangkan
q. Bau mulut atau ketiak yang tidak sedap
r. Membersihkan barang-barang yang kotor
s. Belang
t. Lepra
u. Merawat orang sakit
v. Menunggu kerabat yang sedang sekarat atau sakit yang meresahkan
w. Mencari barang hilang
x. Menulak orang yang hendak ghoshob
y. Rasa kantuk yang tidak tertahan
z. Adanya orang yang hendak atau mengganggu di jalan.

10. Syarat-syarat qudwah (bermakmum)
a. Niat ma’mum atau jama’ah bersamaan dengan takbirotul ihrom.

Tanbih !
- Kalau tanpa niat sebagaimana disebut di atas atau ragu dalam niatnya, kemudian mengikuti orang yang sedang shalat dalam pekerjaan shalat atau salam, dalam jangka waktu yang panjang maka batal shalatnya.

- Niat menjadi imam atau jama’ah bagi imam adalah sunah. Dan sah niat menjadi imam ketika takbirotul ihrom sekalipun belum ada orang yang bermakmum. Juga sah niat menjadi imam di tengah-tengah shalat serta dapat menghasilkan fadlilah jama’ah.

- Sedangkan bagi makmum yang niat menjadi makmum di tengah-tengah shalat adalah boleh sekalipun roka’atnya berbeda dengan imam. Hanya saja hal ini makruh dan tidak dapat menghasilkan fadlilah jama’ah. Kemakruhan ini mengecualikan makmum yang niat mufaraqah sebab imam kedatangan perkara yang membatalkan shalat, kemudian makmum masuk pada jama’ah yang lain. Orang yang makmum di tengah-tengah shalatnya wajib mengurutkan pekerjaan-pekerjaan shalatnya sesuai dengan imam.

- Dalam shalat Jum’at niat menjadi imam dan makmum wajib bersamaan dengan takbirotul ihrom.

2. Anggota tubuh yang dijadikan sebagai penyangga tubuh makmum tidak boleh mendahului badan atau barang yang dijadikan penyangga oleh imam.

Maksud penyangga tubuh adalah :
- Dua tumit bagi orang yang berdiri
- Tongkat bagi orang yang memakai tongkat, sedangkan kakinya tergantung
- Pantat bagi orang yang duduk
- Lambung bagi orang yang tidur miring
- Dua pundak bagi orang yang disalib
- Tumit atau kepala (ada dua kaul) bagi orang terlentang

Tanbih !
a. Bagi orang laki-laki kalau sendirian sunah menempat di sebelah kanan imam, mundur sedikit. Orang yang menyusul hadir menempat di sebelah kiri imam. Kemudian bersamaan dengan pekerjaan shalat, kedua makmum mundur dan menempat di belakang imam.

b. Imam sunah membenarkan kekeliruan posisi makmum dengan perbuatan sedikit.
Demikian juga sebelum memulai shalat, imam sunah mengumumkan lurus dan rapatnya shaf (barisan)

c. Makruh menyendiri atau membuat shaf baru sebelum shaf di depannya penuh. Disamping makruh juga menghilangkan fadlilah jama’ah.

d. Sunah jarak antara satu shaf dengan shaf yang berada dibelakangnya tidak melebihi tiga dziro’

e. Urutan shof orang laki-laki yang baligh berada di shof depan, kemudian anak-anak, selanjutnya orang-orang perempuan. Akan tetapi kalau anak-anak datang terlebih dahulu maka tidak boleh dimundurkan sekalipun belum takbirotul ihrom.

3. Mengetahui perpindahan imam, karena mengetahui sendiri atau dengan perantara shof atau mendengar suara imam atau muballigh sekalipun muballigh tidak ikut shalat jama’ah.

Tanbih !
a. Jika tidak dapat lagi mengetahui perpindahan imam (misalnya muballigh pergi) dalam waktu yang cukup untuk mengerjakan dua rukun, maka makmum tersebut wajib niat mufaraqah.

4. Berkumpulnya imam dan makmum dalam satu tempat.
Dengan perincian sebagai berikut :
a. Kalau imam dan makmum berada dalam masjid, maka sah bermakmumnya sekalipun jarak antara keduanya melebihi 300 dziro’.

Tanbih !
a. Kalau di dalam masjid ada bangunan atau lantai atas, disyaratkan untuk sahnya bermakmum adanya pintu atau tangga yang bisa dipakai untuk mendatangi masjid tanpa membelakangi arah qiblat.

b. Kalau imam berada di masjid, sedangkan makmum berada di luar masjid, disyaratkan untuk sahnya bermakmum :
ba. Jarak tempuh antara imam dan makmum tidak melebihi 300 dziro’
bb. Tidak ada hail (sesuatu yang menghalang-halangi) yang mencegah makmum mengetahui atau sampai pada imam tanpa membelakangi arah qiblat.
bc. Adapun selain makmum harus bertempat di hail tersebut. Makmum yang bertempat di hail itu sebagai penyambung dengan imam.

5. Muwafaqah (sesuai dalam perbuatan) imam dan makmum dalam mengerjakan dan meninggalkan sunah-sunah shalat yang kelihatan sangat tidak pantas kalau tidak sesuai, misalnya imam meninggalkan tasyahhud awal serta duduk istirohah atau tidak sujud tilawah, batal kalau makmum mengerjakannya tanpa niat mufaraqah.

6. Tidak terlambat dari imam tanpa udzur sampai mencakup dua rukun fi’li serta berturut-turut, misalnya imam ruku’, I’tidal dan mulai sujud. Batal shalat makmum yang tetap berdiri.
Namun jika ada udzur, keterlambatan makmum dari imam tidak boleh melebihi tiga rukun yang panjang. Misalnya makmum belum selesai fatihah, sedangkan imam sudah berdiri dari sujud atau duduk tasyahud, makmum wajib mengikuti imam pada rukun yang ke empat, artinya wajib mengikuti imam berdiri atau duduk tasyahud. Tidak boleh kemudian ruku’, I’tidal dan sujud sendirian. Dalam keadaan demikian makmum kehilangan raka’at, jadi setelah imam salam wajib menambah raka’at. Al Hasil, kalau makmum tidak menyusul imam pada rukun yang ke empat serta tidak niat mufaraqah maka shalatnya batal.
Udzur yang membolehkan keterlambatan makmum dari imam diantaranya adalah:
Pelannya bacaan lantaran sudah merupakan tabi’at, ingat atau ragu belum membaca fatihah sebelum ruku’nya imam, untuk membaca fatihah makmum menunggu sampai imam selesai membaca fatihah, namun tiba-tiba imam ruku’, tertidur dalam keadaan menetapkan pantatnya.

7. Tidak sengaja mendahului imam, sampai mencakup dua rukun fi’li yang berturut-turut. Juga tidak mendahului dalam rukun qauli takbirotul ihrom atau salam.
Adapun mendahului imam sampai sempurna satu rukun fi’li hukumnya adalah haram.

Tanbih !
a. Mendahului imam sampai dua rukun fi’li lantaran lupa atau tidak mengerti, tidak membatalkan, hanya saja tidak dianggap. Oleh karena itu wajib kembali mengikuti imam.

b. Mendahului imam satu rukun dengan sengaja, sunah kembali mengikuti imam. Namun kalau karena lupa boleh kembali atau terus.

c. Menyertai imam dalam rukun-rukun fi’li atau qauli selain takbirotul ihrom adalah makruh. Oleh karena itu sunahnya makmum memulai perpindahan apabila imam sudah sampai pada rukun yang dipindahi.

Faidah :
Kalau imam berdiri karena lupa bahwa shalatnya sudah sempurna, makmum tidak boleh ikut berdiri sekalipun shalatnya sendiri belum sempurna (masbuq). Hanya saja wajib menunggu imam atau mufaraqah kemudian salam kalau sudah sempurna shalatnya.

Faidah :
Orang-orang yang tidak sah dimakmumi :
a. Tidak sah makmum pada orang yang disangka kuat bahwa shalat imam tersebut batal menurut keyakinan makmum. Adapun jika hanya ragu maka sha bermakmum kepadanya. Seumpama makmum kepada orang yang bermadzhab hanafi yang setelah wudlu menyentuh farji atau membaca Al Fatihah tanpa basmalah.
b. Tidak sah makmum kepada orang yang juga bermakmum kepada orang lain atau orang yang masih diragukan kemakmumannya sekalipun orang tersebut benar-benar sedang menjadi imam.
c. Tidak sah makmumnya orang yang bagus bacaannya (qari’) kepada orang yang rusak bacaannya sekalipun hanya satu huruf (ummi)


Tersusun dari kitab :
I’anatut Thalibin
Tanggal 1 Sya’ban 1396 H.
28 Juli 1976 M.


KH. ZAINAL ABIDIN MUNAWWIR
Read More..

Total Tayangan Laman

Follow by Email

Google+ Followers