:: Selamat Datang di Website Resmi Pondok Pesantren Putri Al Hidayah :: ::

Pesantren Al-Hamidiyah, Rangkapanjaya, Depok

Posted by alhidayahkroya Selasa, 26 Mei 2009 0 komentar
Saat banyak pesantren berlomba mencetak santri yang pandai wiraswasta atau menguasai teknologi, ada satu dua yang tetap dengan misi utamanya, mencetak ulama. Al-Hamidiyah merupakan salah satunya.
Kehadiran Al-Hamidiyah sebagai pesantren salafiyah di tanah air terbilang baru. Pesantren ini didirikan KH Achmad Sjaichu --salah seorang ketua PBNU tahun 1979-- pada 17 Juli 1988. Dibandingkan pesantren salaf lain seperti pesantren Tebu Ireng Jombang atau Lirboyo Kediri, Jatim, pesantren ini lahir belakangan.
Kendati begitu, pesantren yang didirikan di Jl. Raya Depok Sawangan, Kepupu, Rangkapanjaya, Pancoran Mas, Depok, Bogor itu mengalami perkembangan yang pesat. Beragam tingkat pendidikan digelar mulai dari taman kanak-kanak (TK) hingga Tarbiyah Mu'allimin-Mu'allimat (TMM), setara madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah. Jumlah santrinya mencapai ribuan orang. Semula hanya warga Jabotabek yang mendaftar. Namun belakangan santri dari luar daerah pun bermunculan.
Pendirian Al-Hamidiyah bertujuan mengembangkan dakwah Islam. Hal ini lantaran KH Achmad Sjaichu, merasa sangat prihatin atas kenyataan makin langkanya ulama dan juru dakwah. Ia merasa perlu mendirikan pesantren yang lebih memiliki kualitas dan kuantitas; mencetak santri jadi ulama.
Langkah yang ditempuh dengan melakukan penyempurnaan sistem pendidikan di pesantren. Guna mencapai harapan yang diinginkan almarhum Kiai Sjaichu, Al-Hamidiyah tidak saja berkutat pada ilmu keagamaan semata, tapi juga mengembangkan pendidikan lain seperti TK, TPQ, MTs, MA, pengajian pesantren, majelis taklim, bahasa Arab, komputer, perpustakaan, klinik, dan koperasi. Mereka memiliki lembaga bahasa Arab dan Inggris.
Untuk penunjang pendidikan formal, ada program ekstrakurikuler seperti marching band, pramuka, hajir marawis, qasidah, lembaga Alquran dan dakwah, tata boga, dan olahraga. Dengan muatan seperti itu, Al Hamidiyah memadukan pesantren salaf dan pendidikan modern yang lazim dikenal dengan sistem salafiyah ashriyah.
Sebagai pesantren salaf, kitab klasik atau kitab kuning adalah menu utama. Tak berbeda di tempat ini. Santri harus mengaji beberapa kitab klasik antara lain Ta'limul al-Muta'alim, Arbain an-Nawawi, al-Jawahirul Kalamiyah, Washoya li al Abna, Matan al-Ghooyah wa al Taqrib, al Amtsilah al Tashrifiyah, Nadzam Imriti, al Mutamminah, Tafsir Jalalain, dan Husunul Hamidiyah. Tenaga pengajar terdiri dari para kiai, ustadz, dan sarjana lulusan perguruan tinggi negeri atau swasta dalam dan luar negeri. Ada juga alumni yang ikut nimbrung mengajar.
Visi pesantren Al-Hamidiyah mencetak ulama tak mudah diwujudkan. Itu karena ulama memiliki pengertian sebagai pewaris nabi.
Karenanya, dalam keseharian santri Al-hamidiyah dilatih mempraktikkan cara hidup berdasar ajaran Nabi SAW. Ini ajang praktik sebelum terjun ke tengah masyarakat. Yang terakhir ini butuh pengajar terlatih. Itu sebabnya Al-Hamidiyah juga mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) terhadap pengajar. ''Sebelum mengulamakan santri, guru harus mengulamakan diri sendiri.''
Untuk tujuan tersebut, pesantren menerapkan praktik muhadlarah (ceramah) ke tengah masyarakat. Program yang disebut kegiatan pengabdian masyarakat (KPM) ini dilakukan sepekan sekali. Semula hanya di sekitar Jabotabek, tapi belakangan merambah Jatim dan Bali.
Program KPM ini merupakan andalan yang ditawarkan pesantren Al-Hamidiyah. Kegiatan ini mendapat sambutan positif di masyarakat. Terbukti, banyak yang mendaftarkan anaknya mondok setelah melihat KPM yang dilakukan santri.
ref : Klik

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan isi komentar, pada kolom "beri komentar sebagai" pilih "NAME/URL"cukup diisi nama tanpa perlu isi URL, tapi kalo mau isi ya alhamdulillah....

Total Tayangan Laman

Follow by Email

Google+ Followers